![]() |
Prof. Dr. J.E. Sahetapy mengingatkan:
"Banyak yang mengejar gelar dan jabatan tinggi, tapi lupa bahwa etika dan sopan santun adalah fondasi utama dalam kehidupan bermasyarakat."
Sebuah peringatan yang tajam dan sangat relevan. Di zaman di mana orang berlomba-lomba meraih pangkat, gelar, dan kedudukan — banyak yang justru meninggalkan hal yang paling mendasar: bagaimana kita memperlakukan sesama manusia dengan hormat, etika, dan sopan santun. Tanpa itu, gelar hanyalah hiasan di depan nama — bukan bukti kemanusiaan yang luhur.
📌 MAKNA PESAN PROF. DR. J.E. SAHETAPY
✅ Gelar dan jabatan bukan ukuran nilai manusia — Seseorang bisa punya gelar paling tinggi, menduduki jabatan paling puncak, namun jika sikapnya kasar, ucapannya menyakiti, dan tidak menghargai orang lain — maka gelarnya tidak berarti apa-apa. Gelar hanya menunjukkan pencapaian akademis atau kedudukan — tapi etika menunjukkan kualitas hati dan watak seseorang. Banyak orang hebat gelarnya, tapi miskin budi pekertinya.
✅ Etika dan sopan santun adalah fondasi segala sesuatu — Bangunan setinggi apapun akan runtuh jika fondasinya lemah. Begitu juga seseorang — setinggi apapun jabatan dan gelarnya, jika tidak beretika dan tidak santun, ia tidak akan dihormati secara tulus. Rakyat bisa takut pada jabatannya — tapi tidak harus menghormati pribadinya. Sopan santun bukan kepatutan yang remeh — itu cermin bahwa kita mengakui martabat orang lain setinggi martabat diri sendiri.
✅ Mengejar kedudukan tapi melupakan watak = jalan yang salah arah — Banyak orang berjuang keras naik ke puncak, tapi di perjalanan ia meninggalkan kesopanan, kejujuran, dan rasa hormat kepada orang lain. Padahal naik ke atas tanpa membawa etika — berarti kita naik menjadi orang yang lebih berkuasa, tapi tidak menjadi orang yang lebih baik. Kekuasaan tanpa etika = kekuatan yang berbahaya, bukan kekuatan yang membangun.
✅ Yang diingat rakyat bukan gelarnya — tapi sikapnya — Setelah jabatan turun, setelah gelar terlepas, yang tersisa hanyalah watak dan budi pekerti. Orang tidak akan mengingat seberapa tinggi pangkatnya — tapi mereka akan selalu ingat bagaimana ia memperlakukan orang kecil, bagaimana bicaranya kepada rakyat, dan apakah ia tetap rendah hati meski berkuasa. Sopan santun yang tulus — itulah warisan yang abadi, bukan gelar di depan nama.
TINJAUAN KRITIS — DI MANA KITA SALAH MEMAHAMI KEMAJUAN?
✅ Kita sering salah mengartikan "sukses" — Di zaman ini, kita diajarkan bahwa sukses = gelar tinggi + jabatan tinggi + harta banyak. Padahal itu belum tentu sukses — itu hanya pencapaian luar. Sukses yang sejati adalah ketika kita berkuasa tetap rendah hati, berilmu tetap rendah hati, dan berkedudukan tetap menghargai orang lain. Jika gelar membuatmu merasa lebih tinggi dari orang lain — maka gelar itu justru merusak dirimu, bukan memuliakanmu. ⚖️🎓🤔
✅ Etika bukan aturan tambahan — itu syarat utama bermasyarakat — Kita bisa hidup tanpa gelar tinggi — tapi kita tidak bisa hidup bersama tanpa etika dan sopan santun. Masyarakat tidak runtuh karena rakyat tidak bergelar doktor — tapi masyarakat pasti runtuh jika pemimpinnya tidak beretika, tidak sopan, dan tidak menghargai orang lain. Sopan santun bukan hal remeh — itulah perekat yang menjaga kita tetap manusia, bukan binatang yang saling menginjak demi kekuasaan. 🏛️🤝⚠️
✅ Mengapa banyak yang lupa? Karena terburu-buru naik, lupa siapa yang mengangkatnya — Banyak orang sibuk melihat ke atas — siapa yang lebih tinggi darinya, siapa yang bisa memberi jabatan. Tapi lupa melihat ke bawah — siapa yang bekerja di bawahnya, siapa rakyat yang menempatkannya di sana. Dan ketika seseorang lupa melihat ke bawah dengan hormat — ia sedang melupakan fondasi yang menopang kedudukannya. Saat fondasi dilupakan — kejatuhan tinggal menunggu waktu. 📉🏔️💔
🕊️ PENUTUP — GELAR BISA DIPEROLEH, TAPI BUDI PEKERTI HARUS DIPELIHARA SEUMUR HIDUP
Prof. Dr. J.E. Sahetapy mengingatkan: etika dan sopan santun adalah fondasi utama. Gelar bisa didapat, jabatan bisa diraih — tapi tanpa etika, keduanya hanyalah hiasan yang rapuh. Jangan pernah mengejar kedudukan sambil meninggalkan kesopanan. Jangan pernah merasa lebih tinggi hanya karena gelarmu lebih panjang. Karena yang membuat seseorang terhormat bukan huruf di depan namanya — tapi cara ia berbicara, cara ia memperlakukan orang lain, dan cara ia tetap rendah hati meski berkuasa. Gelar bisa diambil kembali — tapi budi pekerti yang baik akan tetap abadi selamanya.

Komentar