![]() |
Mari kita hentikan segala ucapan rasis, ucapan yang merendahkan, dan ucapan yang menghancurkan satu kesatuan di antara sesama bangsa. Mengapa kita selalu menoreh, selalu mengukir, selalu mencederai rasa kesatuan di antara kita? Kita semua adalah ciptaan Tuhan — makhluk yang berharga, makhluk yang sempurna, diciptakan dengan kasih-Nya. Lalu mengapa kita saling melukai dengan kata-kata yang seharusnya tidak pernah keluar dari mulut orang beradab?
Ucapan-ucapan yang merendahkan, sebutan yang menghina sesama — itu bukan sekadar kata kasar. Itu adalah tanda kemiskinan berpikir, tanda kehabisan argumen, tanda bahwa kita sudah kehabisan adab dan intelektual. Apakah kita sudah begitu miskin budaya sehingga satu-satunya cara kita merasa tinggi adalah dengan merendahkan orang lain? Apakah kita sudah begitu lemah berpikir sehingga satu-satunya cara kita menang adalah dengan menghina sesama bangsa?
Terlebih lagi — jangan karena kita merasa punya jabatan, karena kita mengawal seorang gubernur, pejabat tinggi, atau orang yang berkuasa, lalu kita menjadi sewenang-wenang terhadap rakyat, terhadap sesama, terhadap saudara sebangsa. Jabatan bukan tiket untuk menjadi kasar. Kekuasaan bukan izin untuk merendahkan. Justru semakin tinggi kedudukan seseorang, semakin lembut bahasanya, semakin menghormati sesamanya — karena itulah tanda kebesaran jiwa yang sejati.
Sejarah Telah Memberi Pelajaran Pahit — Afrika Menjadi Bukti Nyata
Lihatlah Afrika Selatan. Selama 46 tahun, dari 1948 hingga 1994, sistem Apartheid memisahkan manusia berdasarkan warna kulit. Satu kelompok merasa lebih unggul, yang lain direndahkan, dilarang menikah, dilarang duduk di tempat yang sama, dilarang bersekolah di tempat yang sama, bahkan tidak boleh tinggal di wilayah yang sama. Hasilnya? Negara itu terbelah, rakyat bermusuhan, ratusan ribu menderita, dan butuh puluhan tahun untuk menyembuhkan luka yang ditoreh oleh kebijakan rasisme.
Lihatlah Sudan. Selama puluhan tahun, kebijakan yang membedakan suku dan ras memicu perang saudara yang tak kunjung usai. Di Darfur, kebencian berubah menjadi kekerasan — jutaan orang diusir, ratusan ribu tewas, semata-mata karena perbedaan asal usul.
Lihatlah Rwanda. Dalam waktu singkat, kebencian yang ditanam bertahun-tahun memicu pembantaian yang menewaskan lebih dari 800.000 orang — semuanya bermula dari ucapan yang merendahkan, yang memecah belah, yang menganggap satu kelompok lebih rendah dari kelompok lain.
Lihatlah Nigeria. Perang Saudara Nigeria 1967–1970 bermula dari perpecahan antarsuku yang dipicu diskriminasi dan penghinaan. Jutaan orang tewas — semata-mata karena bangsa itu gagal menghargai perbedaan di antara anak-anaknya.
Sejarah tidak pernah berbohong: bangsa yang membiarkan rasisme tumbuh di dalamnya — akan hancur dari dalam, sebelum musuh dari luar datang menyerang.
Nelson Mandela — Bukti Bahasa Penyembuh Lebih Kuat dari Kata Kebencian
Namun dari Afrika Selatan, dunia belajar satu hal yang luar biasa. Dari penjara yang gelap, setelah 27 tahun dipenjara karena melawan rasisme, seorang lelaki bernama Nelson Mandela keluar bukan dengan dendam, bukan dengan ucapan balasan, bukan dengan penghinaan. Beliau berkata:
"Saya telah berjuang melawan dominasi satu kelompok, dan saya telah berjuang melawan dominasi kelompok lain. Saya memeluk cita-cita masyarakat yang demokratis dan bebas di mana semua orang hidup bersama dalam harmoni dan dengan kesempatan yang sama. Itu adalah cita-cita yang saya harapkan untuk hidup dan untuk mencapainya. Tetapi jika perlu, itu adalah cita-cita yang saya siap mati untuknya."
Mandela bisa saja membalas penghinaan dengan penghinaan. Beliau bisa saja merendahkan orang lain sebagaimana beliau direndahkan. Tapi beliau memilih jalan yang lebih tinggi — menghargai, menyatukan, memaafkan, dan membangun bersama. Beliau menjadi Presiden kulit hitam pertama Afrika Selatan, bukan untuk membalas dendam, melainkan untuk menyembuhkan luka bangsanya.

Komentar