Bekasi, 28 Juli 2026 – Seluruh bangsa berduka mendengar kabar mengenaskan yang menimpa Bapak Sumarna, petugas keamanan yang mengabdi menjaga kawasan vital Waduk Jatiluhur, Purwakarta. Jasad beliau ditemukan mengapung di perairan waduk dalam kondisi amat memilukan: tangan dan kakinya terikat kuat, bahkan diduga tewas lebih dulu sebelum tubuhnya dibuang ke dalam air. Dugaan sementara menyebut beliau sekadar menegur pihak yang berbuat kerusakan di lokasi, namun malah harus menanggung risiko kehilangan nyawa dengan cara yang sangat biadab.
Perbuatan pelaku sungguh tidak memiliki sedikitpun rasa kemanusiaan. Bagaimana mungkin teguran demi ketertiban dijawab dengan kekejaman sedemikian rupa? Sumarna hanya menjalankan amanah dan tugasnya melindungi aset milik negara demi kepentingan bersama. Ia bekerja keras dengan penghasilan yang jauh dari berlimpah, namun tetap setia menjaga tanggung jawabnya demi menyambung hidup istri dan anak-anaknya .
Kini, keluarga yang ditinggalkan berada dalam duka yang mendalam sekaligus ketidakpastian nasib. Pemerintah, baik pusat maupun daerah, serta pihak pengelola lokasi, kiranya jangan sekadar menyampaikan belasungkawa semata. Harus ada kepastian perhatian dan perlindungan yang nyata bagi keluarga yang ditinggalkan, terlebih pendidikan dan masa depan anak-anak beliau yang masih sangat membutuhkan dukungan. Jangan sampai pengabdian setia Sumarna berakhir dengan melupakan nasib ahli warisnya.
Kasus ini harus diselidiki hingga ke akar-akarnya. Pelaku harus segera ditangkap dan diadili dengan tegas di hadapan hukum. Kejahatan terhadap mereka yang menjaga ketertiban negara tidak boleh dibiarkan lolos begitu saja. Sumarna telah memberikan teladan kesetiaan tugas, kini adalah kewajiban kita semua untuk memastikan keadilan ditegakkan dan keluarganya tidak dibiarkan terlantar.

Komentar