Bekasi, 11 Agustus 2026
![]() |
Banyak bangsa di dunia membuktikan satu hal sederhana: kemajuan tidak lahir dari keangkuhan pemimpin yang mengubah-ubah aturan sesuka hati. Kemajuan lahir ketika seorang pemimpin tahu batasnya — tahu bahwa ia tidak tahu segalanya, dan ia percaya kepada mereka yang bekerja di barisan terdepan, yaitu para guru.
Di Australia, perdana menteri maupun pemimpinnya tidak bisa sendiri mengubah kurikulum, menurunkan aturan baru, atau menentukan nasib guru sepihak begitu saja. Semua hal yang menyangkut pendidikan dan kesejahteraan pendidik harus dibicarakan, dinegosiasikan, dan disepakati bersama — dengan pemerintah, dengan ahli, dan dengan serikat guru yang dihormati keberadaannya.
Di sana, perubahan aturan tidak datang setiap kali pemimpin berganti. Mereka baru saja menandatangani perjanjian pendidikan untuk sepuluh tahun ke depan — arahnya jelas, dananya dikunci, tidak bisa diubah-ubah sembarangan. Standar profesi guru saja ditinjau setiap lima belas tahun sekali, bukan setiap tahun. Mereka memberi ketenangan, bukan kebingungan.
Inilah kenyataannya — bukan untuk membandingkan negara, tetapi untuk membuka mata:
Di banyak tempat, guru diberi gelar indah lalu diabaikan. Di Australia, tidak ada gelar kosong — gajinya langsung nyata. Guru yang baru saja lulus saja sudah menerima sekitar Rp 55–65 juta sebulan, yang berpengalaman bisa mencapai Rp 70–95 juta sebulan, dan guru senior bisa di atas Rp 80–102 juta sebulan.
Di banyak tempat, gaji guru diputuskan sepihak dari atas, guru di daerah terpencil justru dilupakan. Di Australia, besaran gaji dinegosiasikan secara terbuka dan adil, dan mereka yang bertugas di daerah terpencil justru diberi tunjangan tambahan — dihargai lebih mahal, bukan ditinggalkan.
Di banyak tempat, kurikulum diubah-ubah setiap kali pemimpin berganti. Di Australia, perubahan dipikirkan panjang, dijalankan secara bertahun-tahun, dan tidak diganti hanya demi meninggalkan jejak nama di atas kertas.
Lihatlah angka-angka dan cara pandang itu. Bukan berarti Australia negara yang sempurna tanpa cela — tidak juga. Tetapi mereka memahami satu hal yang belum dipahami di banyak tempat: jika Anda ingin guru mendidik anak-anak dengan tenang dan bermutu, maka Anda harus menyejahterakan mereka dengan tenang dan bermutu pula.
Pemimpin di sana tidak merasa paling tahu. Mereka tidak turun tangan mengatur setiap hal kecil di ruang kelas. Mereka mengatur hal yang besar: gaji yang pantas, jenjang karir yang jelas, perjanjian yang mengikat, dan kebijakan yang konsisten. Lalu mereka memberi kepercayaan kepada guru untuk mengajar dengan cara yang paling baik.
Bandingkan dengan yang terjadi di banyak tempat: satu program belum selesai dipahami, sudah dibuat program baru. Satu buku belum habis dipakai, sudah diganti. Satu aturan belum dijalankan, sudah diganti aturan lain. Seakan-akan semakin sering diubah, semakin terlihat sibuk — padahal yang tumbuh bukan kemajuan, melainkan kebingungan.
Bangsa yang maju tidak bekerja seperti itu.
✅ Mereka membuat perjanjian jangka panjang, bukan program jangka pendek
✅ Mereka menaikkan kesejahteraan guru sebelum menaikkan yang lain
✅ Mereka bertanya kepada pendidik sebelum mengubah sistem pendidikan
✅ Mereka memberi ketenangan, bukan kebingungan yang berkelanjutan
Tidak ada bangsa yang maju karena pemimpinnya paling pintar sendiri. Yang terjadi justru sebaliknya: bangsa itu maju karena pemimpinnya sadar — ia tidak bisa sendiri, dan ia memuliakan mereka yang mendidik generasi penerusnya.
Janganlah kita menunggu sampai bangsa lain lebih jauh meninggalkan kita. Lihatlah, pelajarilah, dan mulailah dari hal yang paling dasar: berikan kesejahteraan yang pantas kepada guru, dan biarkan mereka bekerja dengan tenang, bermartabat, dan dihargai sebagaimana mestinya. Itulah fondasi yang sesungguhnya bagi sebuah bangsa.

Komentar