Sering kita melupakan India — bangsa yang penduduknya jauh lebih banyak dari kita. Dengan hampir 1,5 miliar jiwa, India adalah negara berpenduduk terbesar di dunia, lima kali lipat lebih banyak dari Indonesia. Namun lihatlah perkembangannya — dari segala bidang, teknologi, ekonomi, antariksa, farmasi, dan ilmu pengetahuan — semuanya tumbuh dengan inovasi yang luar biasa.
Ekonominya kini menjadi salah satu yang paling cepat berkembang di dunia, menuju peringkat ketiga terbesar. Teknologi digitalnya melayani ratusan juta orang dalam sekejap, sistem pembayarannya menjadi contoh bagi bangsa lain, dan ribuan perusahaan baru lahir setiap tahun dari pemikiran anak-anak bangsanya sendiri.
Mengapa bisa begitu? Bukan karena sedikit penduduk — justru sebaliknya, dengan jumlah yang begitu besar mereka tetap maju. Kuncinya ada pada penghargaan kepada ilmu dan kepada pendidik. Di sana, guru dilatih secara luas, sekolah dilengkapi, dan anak-anak didorong untuk berpikir, menemukan, dan menciptakan. Mereka tidak takut pada jumlah rakyat — mereka justru melihat setiap orang sebagai potensi, bukan beban.
Mantan Presiden India, ilmuwan besar Dr. APJ Abdul Kalam, pernah mengajarkan:
"Pendidikan adalah senjata paling ampuh yang bisa kau gunakan untuk mengubah dunia. Dan guru adalah kuncinya — karena di tangan merekalah diletakkan masa depan bangsa. Jika ingin bersinar seperti matahari, bakarlah seperti matahari terlebih dahulu."
Beliau lahir dari keluarga sederhana, bukan dari orang kaya atau berkuasa — tapi melalui pendidikan dan kerendahan hati, ia menjadi pemimpin yang paling dicintai rakyatnya. Itulah yang membuat India maju: menghargai ilmu, menghargai pengajar, dan memberi jalan bagi siapa saja yang mau belajar — tanpa memandang asal-usulnya.
Janganlah kita menoleh ke luar negeri saja untuk melihat contoh. Lihatlah ke India — dan sadarilah: kekuatan sejati bangsa tidak lahir dari senjata, tidak lahir dari kekayaan alam. Ia lahir dari ruang kelas, dari meja guru, dan dari anak-anak yang dididik dengan sejahtera dan penuh penghargaan.
Bekasi, 18 Agustus 2026

Komentar