Lembaran Kertas Kosong bagi Guru, Kemewahan bagi Dewan — Di Mana Keadilan Itu Berada? -->

Pasang Iklan Disini

Pasang Iklan Anda Disini !!!.....,

red2

Lembaran Kertas Kosong bagi Guru, Kemewahan bagi Dewan — Di Mana Keadilan Itu Berada?

Rabu, 12 Agustus 2026


Bekasi, 12 Agustus 2026

 



 

Sungguh ironis, sungguh memilukan. Bangsa dan negara ini keliru dalam sistemnya. Segala janji, program, dan kebijakan terhadap para pengajar — hanya sejauh lembaran kertas yang tertulis rapi, tetapi kosong di dalamnya. Tidak sampai ke hati, tidak sampai ke kehidupan nyata mereka yang berdiri di barisan terdepan.

 

Seperti disampaikan pengamat sosial Rocky Gerung: "Istilah 'Pahlawan Tanpa Tanda Jasa' sering kali dijadikan obat bius oleh negara. Dengan memberi gelar indah, seolah-olah negara sudah berhak membiarkan guru hidup dalam kekurangan. Padahal guru tidak butuh puisi — guru butuh upah yang layak dan kehidupan yang pasti." Beliau juga mempertanyakan: "Gaji guru tidak bisa diperbaiki karena alasan tidak ada uang? Tetapi program lain yang anggarannya triliunan terus berjalan, kenaikan gaji pejabat tetap diberikan. Di mana letak prioritasnya?"

 

Mimpi tentang "Generasi Emas 2045" didengungkan, ditulis, dan dipajang di mana-mana. Sementara di saat yang sama, para dewan, di legislatif maupun di tempat lain — mereka yang duduk di dalam ruangan ber-AC — justru lebih dahulu menerima kenaikan, tunjangan, dan segala kemudahan. Lalu apa yang tersisa untuk mimpi itu? Hanya sisa cerita, hanya janji yang bergema lalu hilang.

 

Para guru didorong untuk terus membenahi diri, meningkatkan kualitas, mendidik siswa-siswi dengan segenap hati. Mereka disuruh berkorban, disuruh ikhlas, disuruh mengerti keadaan. Tetapi yang dilakukan oleh bangsa ini, oleh pemerintah, oleh para pembuat keputusan? Pendidikan dan pendidik hanya dipandang sebelah mata.

 

Sebaliknya, akses, kenyamanan, kesejahteraan, dan perhatian diberikan seluas-luasnya kepada mereka yang duduk di eksekutif, legislatif, maupun yudikatif. Kepada para dewan yang memegang kekuasaan. Sungguh ironis. Jika terus begini, bangsa ini tidak akan menjadi apa-apa selain catatan cerita di dalam sejarah — tentang negeri yang kaya raya tetapi melupakan fondasinya sendiri.

 

Dan yang paling menyedihkan: bangsa ini seakan tidak mau belajar. Tidak mau menoleh ke tetangga-tetangganya yang berdiri di sebelah. Vietnam yang dulu penuh puing perang, hari ini bangkit karena memuliakan gurunya. Singapura yang tidak punya sumber daya alam, berdiri tegak karena menjadikan pendidikan nomor satu. Jepang yang pernah hancur, bangkit karena memutuskan: guru adalah yang paling terhormat. Mengapa mereka bisa, dan kita yang justru lebih kaya justru tertinggal di tempat?

 

 

 

Masih ada harapan. Belum terlambat.

 

Berikanlah kepastian dan kebijakan yang mutlak. Berikanlah kesejahteraan yang sebesar-besarnya kepada para guru — bukan karena mereka meminta harta, tetapi karena mereka memegang masa depan jutaan anak bangsa. Janganlah lagi hanya berbicara omong kosong tentang kekuatan senjata dan kemiliteran.

 

Coba saja bayangkan:

 

- Kalau tentara tidak disejahterakan dengan baik, apakah mereka bisa menjaga negara dengan tenang dan berani? Tentu tidak.

- Lalu mengapa kita berharap guru bisa mencerdaskan bangsa dengan tenang dan berani, kalau hidupnya pun belum pasti?

 

Coba lakukan hal yang sama kepada para dewan dan penguasa: potong tunjangannya, berikan seadanya, lalu katakan — "bekerjalah dengan ikhlas, demi bangsa." Apakah mereka mau? Apakah mereka tetap akan duduk di sana dengan seteguh hati? Tentu tidak. Maka mengapa yang berbeda diperlakukan berbeda?

 

 

 

Negara ini menganut demokrasi. Negara ini menganut keadilan. Negara ini berasaskan Pancasila dan Ketuhanan Yang Maha Esa.

 

Seperti ditegaskan Rocky Gerung: "Prinsip keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia tidak boleh hanya di sila kelima, tetapi harus terlihat di mana-mana. Kalau ada yang salah, hukum orangnya — jangan potong hak seluruh rakyat."

 

Jika seorang pemimpin takut akan Tuhan, maka ia akan diberikan hikmat dan kebijaksanaan — persis seperti yang dimiliki Nabi Sulaiman. Kerajaannya begitu luas, kekayaannya begitu berlimpah, namanya dikenal sampai ke ujung bangsa lain. Bukan karena ia menumpuk harta untuk dirinya sendiri, bukan karena ia memperkuat dewan-dewannya saja — melainkan karena ia memerintah dengan hati yang mulia, dengan keadilan yang nyata, dan memajukan rakyatnya secara merata.

 

Itulah hikmat yang sejati: bukan membuat kebijakan yang indah di atas kertas, tetapi membuat keputusan yang adil di dalam kehidupan nyata. Bukan menempatkan yang di atas semakin tinggi, tetapi mengangkat yang di bawah agar berdiri tegak sama tingginya.

 

Belum terlambat untuk memutuskan dengan benar. Sejahterakanlah guru dengan gaji yang besar dan kepastian yang tidak bisa diganggu gugat. Karena di manapun di dunia ini — dan seperti yang ditunjukkan oleh sejarah Nabi Sulaiman — bangsa yang memuliakan mereka yang mendidik dan melayani rakyatnya dengan tulus, akan dimuliakan oleh zaman. Dan bangsa yang sebaliknya — seberapa kaya pun, seberapa kuat pun — perlahan namun pasti akan menjadi catatan cerita: tentang mimpi yang tidak pernah sampai menjadi kenyataan.