Saat ini terlihat jelas tanda yang sangat nyata: kehidupan manusia seakan tidak lagi memikirkan kebersamaan, tidak lagi membangun persatuan dalam berbangsa dan bernegara. Sebaliknya, semakin banyak orang yang lebih mencintai dirinya sendiri, lebih mengejar kemewahan pribadi, dan lupa bahwa kita hidup berdampingan dengan sesama.
Apapun yang ada di dalam hati manusia — terus-menerus melakukan hal yang jahat, merugikan orang lain, menindas yang lemah — dan tidak merasa bersalah. Yang penting dirinya senang, yang penting dirinya kaya, yang penting dirinya dihormati. Tidak peduli apakah itu merugikan orang lain. Tidak peduli apakah itu benar atau salah. Yang penting — dirinya sendiri merasa cukup.
Inilah tanda zaman yang paling nyata: manusia merasa tidak pernah cukup. Punya satu, mau dua. Punya banyak, mau lebih banyak. Dan di tengah pengejaran itu — lupa bahwa di sebelahnya ada yang kekurangan, di bawahnya ada yang menderita, di sekitarnya ada yang butuh uluran tangan.
📖 Contoh Nyata — Di Mana Saja Terjadi, Dan Di Mana Saja Bangsa Itu Runtuh
Lihatlah ke berbagai bangsa di dunia — dan kita akan melihat pola yang sama berulang kali terjadi:
✅ Banyak negara maju yang kaya raya, tapi kehilangan kebersamaan. Di Eropa maupun Amerika — semakin kaya secara materi, semakin banyak orang hidup sendiri, semakin lemah ikatan keluarga, semakin lemah ikatan sesama warga. Orang menjadi kaya, tapi menjadi sendirian. Punya segalanya, tapi tidak punya tempat untuk berbagi.
✅ Bangsa yang dulu bersatu karena perjuangan — kini terpecah karena kemewahan. Lihatlah beberapa negara di Afrika dan Amerika Latin — dulu rakyatnya bersatu melawan penjajah, berbagi makanan, berbagi tempat berlindung. Tapi setelah merdeka — sebagian orang mulai kaya sendirian, lupa pada rakyat yang masih menderita, dan akhirnya bangsa itu terpecah bukan oleh musuh dari luar — tapi oleh keserakahan dari dalam.
✅ Negara-negara yang mementingkan diri sendiri — akhirnya kehilangan persatuan. Lihatlah beberapa negara yang dulunya satu kesatuan, lalu terpecah belah bukan karena perang — tapi karena kelompok-kelompoknya tidak mau lagi berbagi, tidak mau lagi saling mengerti, dan masing-masing hanya mementingkan dirinya sendiri. Kemewahan menjadi pemisah, bukan pemersatu.
✅ Di banyak kota besar dunia — orang hidup berdampingan tapi tidak saling kenal. Tinggal satu gedung, tidak saling menyapa. Bekerja di satu tempat, tidak saling peduli. Semua berlari mengejar keuntungan sendiri — dan lupa bahwa manusia itu makhluk sosial, yang tidak bisa hidup sendiri tanpa sesamanya.
Di mana pun di dunia ini — ketika kemewahan menjadi tujuan utama, ketika kebersamaan dilupakan — di sanalah peradaban mulai retak. Bukan karena kekurangan materi — tapi karena kekurangan kasih sayang, kekurangan perhatian, kekurangan rasa bahwa kita semua satu saudara.
🇮🇩 Dan Di Negeri Kita — Apakah Kita Juga Mengalaminya?
Mari kita lihat di sekitar kita sendiri, di hari-hari yang sedang kita jalani:
✅ Banyak orang lupa bahwa kemewahan itu titipan, bukan milik abadi. Kita bawa tidak apa-apa ke dunia ini, dan tidak akan bawa apa-apa saat pergi. Lalu kenapa harus mengorbankan kebersamaan, kejujuran, dan persaudaraan — hanya untuk sesuatu yang tidak bisa dibawa mati?
✅ Banyak orang berbuat salah tapi tidak merasa bersalah — karena hati sudah tertutup oleh keinginan diri sendiri. Yang penting dirinya untung, tidak peduli orang lain rugi. Yang penting dirinya senang, tidak peduli orang lain menderita. Itulah kerusakan yang paling dalam — ketika hati tidak lagi bisa merasakan sakit orang lain.
✅ Kita semakin canggih teknologi — tapi semakin jauh satu sama lain. Bisa berkomunikasi dengan orang di ujung dunia — tapi tidak menyapa tetangga sebelah rumah. Bisa melihat segala hal — tapi tidak melihat orang yang butuh pertolongan di depan mata kita.
✅ Kita semakin kaya secara materi — tapi semakin miskin secara kemanusiaan. Punya rumah yang besar — tapi keluarga semakin renggang. Punya banyak harta — tapi semakin pelit berbagi. Punya banyak waktu luang — tapi semakin jarang membantu sesama.
Keserakahan itu tidak pernah mengenal kata cukup. Semakin diberi — semakin mau. Semakin kaya — semakin takut miskin. Dan di sanalah manusia terjebak — mengejar yang tidak bisa dibawa, dan melupakan yang kekal: kasih sayang, kebersamaan, dan kebaikan kepada sesama.
🤲 Penutup — Kembali Kepada Yang Sebenarnya Penting
Hari-hari ini adalah tanda — tanda bahwa kita harus kembali. Kembali kepada kebersamaan, kembali kepada kepedulian, kembali kepada rasa bahwa kita semua satu bangsa, satu saudara, dan satu ciptaan Tuhan.
Kemewahan itu boleh ada — asal tidak menjadi tuan. Kekayaan itu boleh dicari — asal tidak dengan merugikan orang lain. Kehidupan itu boleh dinikmati — asal tidak melupakan mereka yang di bawah, yang lemah, yang membutuhkan.
Bangsa yang kuat bukan bangsa yang paling kaya — tapi bangsa yang saling peduli. Bangsa yang besar bukan bangsa yang paling mewah — tapi bangsa yang tetap bersatu walau sulit. Dan manusia yang paling beruntung — bukan yang paling banyak harta — tapi yang paling banyak berbuat baik untuk sesamanya.
Mari kita renungkan ini — untuk diri sendiri, untuk keluarga, dan untuk bangsa yang kita cintai. Karena kalau kita hanya mencintai diri sendiri — kita akan semakin kaya tapi semakin sepi. Tapi kalau kita saling mencintai dan saling membangun — maka kemewahan itu akan menjadi berkat untuk semua, bukan menjadi tembok pemisah antar sesama.
Bekasi, 21 Agustus 2026

Komentar