![]() |
Sungguh pemandangan yang ironis: bangsa ini sudah merdeka dari penjajah luar, namun rakyat seolah masih dijajah — bukan oleh bangsa asing, melainkan oleh penguasa di dalam negeri sendiri. Sebagian yang memegang kekuasaan justru merasa lebih layak membangun "koloni" atas rakyatnya sendiri, seolah tanah dan penghidupan ini milik segelintir orang yang duduk di kursi kekuasaan. Mereka lupa membangun kemajuan bersama, melupakan kesatuan, dan mengabaikan peradaban yang seharusnya tumbuh dari rakyat, untuk rakyat, dan bersama rakyat.
Berjalannya waktu tidak akan mengubah kebenaran ini. Semakin lama penguasa bersikap sewenang-wenang, semakin dalam rakyat menyadari: kemerdekaan belum selesai. Rakyat akan membuktikan bahwa kekuasaan tidak pernah berpindah dari mereka — penguasa hanyalah pemegang amanah sementara. Dan ketika amanah itu disalahgunakan, sejarah selalu mencatat hal yang sama berulang: mereka yang merasa paling berkuasa di atas rakyat, pada akhirnya jatuh karena rakyat sendiri.
Lihatlah sejarah dunia — di mana saja penguasa menindas dan berbuat sewenang-wenang, di sanalah berakhir kehancuran. Prancis di bawah kekuasaan Raja Louis XVI: rakyat ditindas, dipungut pajak berat, dibiarkan lapar sementara istana berpesta. Raja merasa kekuasaannya datang dari langit dan tidak bisa diganggu gugat. Namun rakyat bangkit, dan kerajaan yang terlihat abadi itu runtuh dalam sekejap mata.
Begitu juga di Rusia zaman Tsar: kekuasaan mutlak, rakyat dijadikan alat, dan penguasa merasa tidak perlu mempertanggungjawabkan apa pun. Tsar berpikir kekuasaannya akan turun-temurun selamanya — tetapi rakyat yang diam lama akhirnya bergerak, dan kekaisaran yang tampak tidak tergoyahkan itu hancur menjadi debu.
Itulah pelajaran yang tidak pernah berubah sepanjang zaman:
Penguasa boleh merasa berkuasa hari ini, boleh berbuat sesuka hati hari ini, boleh melupakan rakyat hari ini. Tetapi jangan pernah lupa: rakyat adalah sumber segala kekuasaan. Kekuasaan tidak datang dari jabatan, tidak dari kursi, tidak dari lambang — kekuasaan datang dari rakyat, kembali kepada rakyat.
Janganlah sewenang-wenang. Janganlah menindas. Janganlah menjajah rakyat sendiri. Karena saat rakyat bersatu — tidak ada benteng yang mampu menahan, tidak ada kekuatan yang mampu menandingi. Bukan karena rakyat bersenjata, tetapi karena kebenaran dan keadilan ada di pihak mereka.
Bekasi, 18 Agustus 2026

Komentar