![]() |
Pernyataan Presiden Prabowo — Harapan yang Tinggi, Tetapi Harus Diwujudkan Secara Nyata
I. PERNYATAAN YANG MEMBANGUN HARAPAN
Dalam peringatan HUT ke-28 Partai Amanat Nasional di Jakarta, Jumat (18/9/2026), Presiden Prabowo Subianto menyampaikan komitmen yang disambut baik banyak pihak:
- 📌 Meningkatkan kesejahteraan guru — mengangkat derajat pendidik yang menjadi tulang punggung masa depan bangsa
- 📌 Mendorong pendidikan gratis bagi masyarakat — membuka akses ilmu tanpa penghalang kemampuan ekonomi
"Tidak ada janji yang lebih mulia selain memastikan anak bangsa mendapat ilmu, dan pengajarnya hidup layak."
II. INI BUKAN HAL BARU — TETAPI HARUS JADI NYATA
Selama bertahun-tahun, kedua hal ini selalu didengar di setiap panggung politik:
- Guru digelar pahlawan tanpa tanda jasa, namun kesejahteraan belum sepenuhnya terjamin
- Pendidikan disebut hak asasi, namun biaya masih menjadi beban berat bagi banyak keluarga
Kini komitmen itu kembali diucapkan. Rakyat menyambutnya bukan dengan keraguan, melainkan dengan harapan yang diiringi pertanyaan:
❓ Bagaimana bentuk kenaikan kesejahteraan tersebut? Apakah peningkatan gaji, tunjangan, atau jaminan hari tua?
❓ Apa definisi "pendidikan gratis"? Hingga jenjang mana? Apakah mencakup biaya tersembunyi yang selama ini membebani orang tua?
❓ Dari mana sumber anggarannya? Apakah berkelanjutan, atau hanya program sesaat?
❓ Bagaimana pemerataannya? Apakah guru di daerah terpencil, di pulau terluar, di pedalaman — ikut merasakan hal yang sama?
III. KESEJAHTERAAN GURU = INVESTASI BANGSA
✅ Guru yang sejahtera akan mengajar dengan tenang — tidak harus mencari penghasilan tambahan di luar jam tugas
✅ Guru yang dihormati akan dihormati muridnya — contoh yang baik lebih kuat dari ribuan nasihat
✅ Gaji yang layak bukan belas kasih — itu hak — karena mereka membentuk generasi yang akan memimpin negeri ini
Namun kenaikan kesejahteraan tidak boleh hanya di panggung pidato. Harus terlihat di:
- Slip gaji yang masuk tepat waktu
- Rumah yang layak ditempati
- Biaya berobat yang tidak memberatkan
- Masa pensiun yang tetap tenang
"Negara yang tidak memelihara gurunya, sedang melupakan masa depannya sendiri."
IV. PENDIDIKAN GRATIS: HARUS BENAR-BENAR BEBAS BIAYA
Pendidikan gratis yang sesungguhnya berarti:
- Tidak ada pungutan resmi maupun tidak resmi
- Buku, alat tulis, seragam, dan biaya penunjang terjangkau atau disediakan
- Anak dari keluarga kurang mampu tidak malu karena tidak bisa ikut kegiatan sekolah
- Akses yang sama di kota besar maupun di pelosok negeri
Selama ini, kata "gratis" seringkali belum terasa sepenuhnya gratis bagi rakyat. Itulah yang harus dibuktikan sekarang.
V. KERITIK BUKAN UNTUK MENJATUHKAN — UNTUK MEMASTIKAN TERWUJUD
Kita tidak menolak janji ini. Justru kita mendukungnya. Tetapi dukungan yang sehat disertai pengawasan:
🔹 Jangan biarkan ini menjadi slogan — buktikan dengan anggaran yang jelas dan realisasi yang terukur
🔹 Jangan lupakan guru di daerah — pemerataan lebih penting daripada kemegahan di satu tempat
🔹 Libatkan organisasi guru dan orang tua — agar kebijakan sesuai kebutuhan di lapangan, bukan sekadar di atas kertas
🔹 Laporkan kemajuan secara berkala — rakyat berhak tahu: sudah berapa yang naik, sudah berapa yang terjangkau
VI. PENUTUP — JANJI ADALAH UTANG YANG HARUS DITEPATI
Ucapan di panggung mengundang tepuk tangan.
Tetapi tepuk tangan yang paling tulus akan datang dari rumah-rumah sederhana:
— dari guru yang pulang dengan senyum karena gajinya cukup
— dari orang tua yang tidak lagi cemas memikirkan biaya sekolah anaknya
— dari anak yang berjalan ke sekolah dengan tenang, tahu bahwa ilmunya adalah haknya, bukan kemewahan yang harus dipinta
Semoga komitmen ini bukan sekadar kata-kata.
Semoga ia menjadi kenyataan yang dirasakan dari Sabang sampai Merauke.

Komentar