![]() |
Presiden Aljazair Abdelmadjid Tebboune mengambil langkah tegas dan berani: menetapkan hukuman mati bagi siapa saja yang dengan sengaja melakukan pembakaran hutan dan lahan di negaranya. Keputusan ini diambil bukan tanpa alasan — negara itu telah kehilangan ribuan hektare hutan, ratusan nyawa melayang, dan kerugian ekonomi yang luar biasa akibat kebakaran hutan yang terus berulang. Pemerintah Aljazair menyadari bahwa ketika peringatan tidak didengar, ketika teguran diabaikan, dan ketika kerugian terus menimpa rakyat — maka langkah yang paling keras dan paling tegas adalah satu-satunya jalan untuk menyelamatkan bumi dan rakyat.
Lalu kita bertanya: Bagaimana dengan Indonesia?
Setiap tahun, karhutla menjadi bencana rutin yang menimpa bangsa ini. Hutan dan lahan terbakar, kabut asap menutup kota-kota, jutaan warga menderita gangguan pernapasan, anak-anak tidak bisa sekolah, pesawat tidak bisa mendarat, dan kerugian negara mencapai ratusan triliun rupiah. Kita sudah melihat berulang kali: peringatan, imbauan, sanksi ringan, hingga teguran keras — namun semuanya belum cukup untuk menghentikan pembakaran yang terus dilakukan. Pelakunya sering kali tidak ditindak tegas, banyak yang lolos, dan keesokan tahun kebakaran terjadi lagi di tempat yang sama.
Jika Aljazair berani mengambil langkah yang sangat berat demi menyelamatkan negaranya, mengapa Indonesia yang kaya hutan, yang lebih luas wilayah hutannya, yang lebih banyak penduduknya, dan yang lebih besar kerugian akibat asapnya — justru belum berani? Apakah karena bagi sebagian pihak, keuntungan sesaat dari membakar hutan lebih besar daripada kerugian rakyat yang menderita? Apakah karena para pelaku besar punya perlindungan sehingga hukum tidak berani menyentuh mereka?
Rakyat menuntut keseriusan yang sama. Bukan berarti kita harus meniru persis setiap kebijakan negara lain, tetapi kita harus meniru keseriusan mereka. Kita harus punya keberanian untuk mengatakan: hutan dan udara bersih adalah nyawa bangsa, dan siapa yang dengan sengaja merusaknya, harus dihukum seberat-beratnya — tanpa pandang bulu, tanpa peduli siapa pelakunya, tanpa peduli seberapa besar kekayaan atau kekuasaannya.
Jangan sampai kita terus menonton hutan kita habis, udara kita tercemar, dan rakyat kita sakit — hanya karena hukum kita terlalu lembut kepada perusak, namun terlalu keras kepada mereka yang hanya berusaha membangun. Belajarlah dari Aljazair: ketika kelembutan tidak lagi dihargai, ketegasan adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan bangsa.

Komentar