RATUSAN ALIANSI RAKYAT KALTIM UNJUK RASA DI DEPAN GUBERNUR — TUNTUTAN MENGGEMA: HAPUSKAN MBG, KEMBALIKAN TNI KE BARAK -->

Pasang Iklan Disini

Pasang Iklan Anda Disini !!!.....,

red2

RATUSAN ALIANSI RAKYAT KALTIM UNJUK RASA DI DEPAN GUBERNUR — TUNTUTAN MENGGEMA: HAPUSKAN MBG, KEMBALIKAN TNI KE BARAK

Sabtu, 05 September 2026

 
dari Aliansi Rakyat Kalimantan Timur menggelar aksi unjuk rasa di depan kantor Gubernur Kaltim pada pukul 16.41 WITA. Aksi ini menjadi bukti nyata bahwa keresahan masyarakat semakin meluas dan tidak bisa lagi diabaikan begitu saja. Mereka membawa dua tuntutan utama yang sangat mendasar dan menyentuh kepentingan rakyat banyak.

 

 TUNTUTAN PERTAMA: HAPUSKAN PROGRAM MBG — KERESAHAN YANG TIDAK BISA DIKECILKAN

 

Massa menuntut penghapusan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Tuntutan ini bukan lahir dari kebencian terhadap program sosial — melainkan lahir dari kenyataan yang dirasakan langsung oleh masyarakat:

 

- Banyak kasus keracunan makanan massal yang terus berulang di berbagai daerah, menimbulkan korban terutama anak-anak sekolah

- Keterbatasan anggaran dan pengelolaan yang belum transparan, bahkan banyak dapur yang terjerat utang bank

- Kualitas gizi dan bahan baku yang dipertanyakan, sementara rakyat berharap program ini benar-benar bermanfaat bagi kesehatan generasi bangsa

 

Jika program yang seharusnya memberi manfaat justru membawa risiko dan kerugian — wajar jika rakyat meminta evaluasi menyeluruh, bahkan penghentian jika memang belum siap dengan baik. Negara tidak boleh memaksakan program yang menyangkut nyawa dan kesehatan rakyat jika sistemnya belum sempurna.

  TUNTUTAN KEDUA: KEMBALIKAN TNI KE BARAK — PERTAHANKAN PRINSIP NEGARA HUKUM

 

Tuntutan agar TNI dikembalikan ke barak menyentuh prinsip paling dasar dari negara kita:

 

- Tugas utama TNI adalah menjaga kedaulatan negara dan keamanan dari ancaman luar — bukan berperan dalam kehidupan sipil sehari-hari

- Keterlibatan aparat militer dalam urusan pemerintahan, sosial, maupun kebijakan sipil dapat menciptakan ketidakseimbangan demokrasi

- Prinsip sipil lebih tinggi dari militer adalah fondasi demokrasi yang harus dijaga agar tidak terjadi penyalahgunaan kekuasaan

 

Ketika rakyat meminta TNI kembali ke barak — itu bukan menolak kehadiran mereka. Itu justru meminta agar mereka kembali menjalankan tugasnya yang benar, agar sipil menjalankan tugasnya sendiri, dan agar tidak ada yang melampaui batas kewenangan masing-masing. Itu adalah tuntutan atas ketertiban, batasan, dan penghormatan terhadap konstitusi.

 

📍 SUARA RAKYAT DI DEPAN KANTOR GUBERNUR — TIDAK BOLEH DIABAIKAN

 

Ratusan orang yang rela datang, berkumpul, dan menyuarakan pendapatnya di depan kantor Gubernur — itu bukan hal yang sepele. Itu adalah suara rakyat yang sudah tidak bisa lagi ditampung di dalam rumah, yang sudah tidak bisa lagi disampaikan hanya lewat obrolan biasa. Mereka datang karena merasa jalur dialog tertutup, jalur penyampaian aspirasi tidak didengar, dan satu-satunya cara yang tersisa adalah berdiri di depan pemimpin daerahnya.

 

Pemerintah daerah wajib mendengarkan, wajib menerima, dan wajib menindaklanjuti. Bukan dengan kekerasan, bukan dengan penundaan, bukan dengan janji kosong — tapi dengan jawaban yang jelas, tegas, dan bertanggung jawab. Mengabaikan unjuk rasa yang tertib dan damai berarti mengabaikan kedaulatan rakyat itu sendiri.

 

 INI BUKAN PEMBANTAHAN — INI PENGINGAT KONSTITUSI

 

Unjuk rasa ini adalah bukti bahwa rakyat masih peduli pada negaranya. Mereka bukan menolak pembangunan — mereka menolak pembangunan yang salah arah. Mereka bukan menolak kehadiran negara — mereka menolak kehadiran negara yang tidak sesuai dengan fungsinya.

 

Suara rakyat yang berkumpul di depan kantor Gubernur adalah pengingat bahwa kekuasaan itu titipan, pemimpin itu pelayan, dan tuntutan rakyat adalah hal yang paling utama untuk didengarkan sebelum menjadi tuntutan yang lebih besar lagi di seluruh negeri.

 

Kesimpulan: Unjuk rasa Aliansi Rakyat Kaltim ini bukan sekadar peristiwa sesaat — ini adalah gelombang keresahan yang semakin meluas. Hapuskan program yang merugikan, kembalikan militer ke baraknya — itu adalah tuntutan yang wajar, yang berakar pada kebenaran, keadilan, dan konstitusi. Pemerintah tidak boleh menutup mata. Karena jika suara rakyat tidak didengarkan di kantor Gubernur — maka suara itu akan semakin keras terdengar di seluruh negeri.