SEKOLAH MENGAJARKAN ETIKA, ISTANA MENGAJARKAN "GOBLOK" -->

Pasang Iklan Disini

Pasang Iklan Anda Disini !!!.....,

red2

SEKOLAH MENGAJARKAN ETIKA, ISTANA MENGAJARKAN "GOBLOK"

Minggu, 20 September 2026


Ketika Contoh dari Atas Membatalkan Pelajaran di Bawah

 

I. KALIMAT YANG PEDIH TAPI NYATA

 

Ungkapan ini terdengar kasar, tetapi isinya menyimpan luka yang dalam:

 

"Sekolah mengajarkan etika, istana mengajarkan goblok."

 

Bukan berarti semua di sekolah baik, dan semua di istana buruk. Tetapi yang dirasakan rakyat adalah ini: apa yang diajarkan di ruang kelas, seringkali terbalik di panggung kekuasaan.

 

 

II. DI SEKOLAH KITA DIAJARKAN...

 

✅ Jujur itu mulia, jangan mencontek

✅ Hormati orang lain, jangan berbohong

✅ Taat aturan, jangan ambil yang bukan hak

✅ Bertanggung jawab, akui jika salah

✅ Kerja keras membuahkan hasil

 

"Anak-anak diajarkan menjadi manusia yang baik."

 



III. DI TEMPAT KEKUASAAN YANG TERJADI...

 

❌ Yang jujur disingkirkan, yang manis di mulut naik ke atas

❌ Aturan dibuat untuk orang lain, bukan untuk diri sendiri

❌ Yang berani bicara kebenaran dibungkam, yang menurut diberi kedudukan

❌ Tanggung jawab dialihkan, kesalahan ditutupi, kerugian ditanggung rakyat

❌ Kekayaan dibagi di antara kelompok sendiri, sementara yang bekerja keras makin susah

 

"Lalu anak-anak bertanya: Bu, Pak, kenapa di luar sekolah aturannya beda?"

 

IV. INI BUKAN SEMUA — TAPI INI YANG TERLIHAT

 

Tentu tidak semua pemimpin demikian. Tetapi yang terlihat, yang terdengar, yang menyebar cepat — itulah yang membentuk pandangan rakyat:

 

- Janji di panggung → dilupakan setelah dilantik

- Kesalahan yang ditutupi → makin membuat rakyat tahu ada yang disembunyikan

- Perlakuan berbeda → yang dekat diampuni, yang jauh dihukum

- Kata "rakyat" diucapkan, tetapi keputusan diambil tanpa bertanya rakyat

 

"Ketika pemimpin tidak memberi contoh, pelajaran di sekolah menjadi sekadar hafalan yang tak berlaku di dunia nyata."

 


V. DAMPAKNYA SANGAT BERBAHAYA

 

🔹 Anak-anak tumbuh berpikir: jujur itu cuma di buku

🔹 Pemuda merasa: yang penting kuasa, bukan benar

🔹 Rakyat perlahan kehilangan kepercayaan: siapa yang layak diikuti?

🔹 Bangsa terbelah: yang memegang prinsip merasa asing, yang mengejar keuntungan merasa di atas angin

 

"Kerusakan terbesar bukan pencurian uang, melainkan pencurian kepercayaan — bahwa menjadi orang baik itu tidak berguna."

 

VI. MAKA JALAN KELUARNYA ADALAH INI

 

✅ Pemimpin harus hidup sesuai yang diajarkan di sekolah — tidak lebih, tidak kurang

✅ Aturan berlaku sama untuk semua — dari yang paling bawah sampai yang paling tinggi

✅ Mengakui kesalahan bukan kelemahan — itu tanda kekuasaan yang benar-benar berani

✅ Contoh lebih kuat dari pidato — jika pemimpin jujur, rakyat akan ikut jujur

✅ Sekolah dan negeri harus sejalan — apa yang didengar anak di rumah, di sekolah, di jalan, semuanya mengarah ke kebaikan yang sama

 

"Tidak boleh ada dua macam etika: satu untuk pelajar, satu untuk penguasa. Kebenaran hanya satu."

 

VII. PENUTUP — KITA YANG MEMBANGUN CITRA INI

 

Kalau ungkapan ini menyakitkan, itu karena ada yang memang sakit.

Kalau ungkapan ini terdengar kasar, itu karena kenyataannya sudah terlalu lama dibiarkan.

 

Mari kita buktikan bahwa ini bukan selamanya.

Bahwa masih ada pemimpin yang rendah hati,

masih ada yang jujur meski sepi,

masih ada yang mengabdi tanpa menghitung untung,

 

Agar suatu hari nanti, kalimat itu berubah menjadi:

"Sekolah mengajarkan etika, dan di mana-mana kita melihatnya diterapkan."

Itulah kemenangan yang sesungguhnya.