![]() |
Pada Sidang ke-81 Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa, New York, 24 September 2026, suasana memanas ketika Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bersiap menyampaikan pidato. Sejumlah delegasi memilih meninggalkan ruangan sebelum ia berbicara. Puluhan perwakilan negara keluar, dan Netanyahu kemudian menyebut mereka sebagai pengecut moral yang silakan pergi. Peristiwa ini menjadi sorotan dunia dan memunculkan berbagai pandangan.
Dua Sikap yang Sama-sama Berdiri
- Bagi yang keluar: langkah itu adalah bentuk protes atas kebijakan yang dinilai tidak menguntungkan perdamaian, merugikan rakyat banyak, dan bertentangan dengan prinsip kemanusiaan. Mereka merasa tidak perlu mendengarkan jika arah pembicaraan tidak membawa solusi yang adil.
- Bagi Netanyahu: kepergian mereka dianggap menghindari kenyataan, tidak berani berhadapan dengan pandangan yang berbeda, dan meninggalkan ruang diskusi saat justru diperlukan kejernihan.
Mengapa Hal Ini Penting
Ketika perwakilan bangsa-bangsa saling meninggalkan ruang, bukan berarti masalahnya selesai. Justru sebaliknya: jalur dialog semakin sempit, saling paham semakin sulit tumbuh, dan kesalahpahaman makin dalam. Setiap pihak merasa benar, setiap pihak merasa korban, dan tidak ada yang mau mendengar sampai selesai. Padahal perbedaan pandangan seharusnya diselesaikan dengan berbicara, bukan dengan berpaling.
Kebenaran Tidak Selalu di Satu Pihak
Sikap meninggalkan ruang bisa menjadi pernyataan yang kuat, tetapi juga bisa menjadi jalan yang menutup kesempatan untuk meyakinkan pihak lain. Kata-kata yang tajam bisa membela diri, tetapi juga bisa menambah jarak yang memisahkan. Dunia tidak terbagi menjadi mereka yang benar dan mereka yang salah — dunia terisi oleh pihak-pihak yang sama-sama punya alasan, sama-sama punya kepentingan, dan sama-sama punya keterbatasan.
Apa yang Sebenarnya Diperlukan
Perdamaian tidak lahir dari siapa yang paling lantang berbicara atau siapa yang paling cepat pergi. Ia lahir dari kemampuan duduk bersama, mendengar yang tidak disukai, dan mencari jalan yang bisa diterima semua pihak. Siapa pun yang berani tetap dengar dan berani tetap bicara dengan tenang, itulah yang sesungguhnya membuktikan kedewasaan bangsa.
Penutup
Peristiwa ini menjadi cermin bagi seluruh dunia: betapa mudahnya berpisah, dan betapa sulitnya tetap bersama meski berbeda pandangan. Semoga kepergian dan perkataan yang tajam ini bukan akhir dari pertemuan, melainkan awal dari kesadaran bahwa tanpa saling mendengar, tidak akan ada kedamaian yang kekal.

Komentar