![]() |
sumber foto dari F/B
KATA YANG TEGAS DARI SEORANG SAHABAT BANGSA
"DPR kita isinya orang gak karu-karuan, sombongnya bukan main."
— Abdurrahman Wahid (Gus Dur)
Kalimat ini bukan ujaran kebencian. Ini adalah teguran tajam dari seorang pemimpin yang mencintai bangsanya. Gus Dur tidak bicara tanpa alasan — ia melihat langsung bagaimana kursi rakyat diisi oleh mereka yang lupa siapa yang menempatkannya di sana.
APA MAKSUD "GAK KARU-KARUAN"?
- Bukan sekadar kurang sopan — itu berarti tidak tahu diri, lupa asal-usul, lupa tugas sesungguhnya
- Orang yang duduk mewakili rakyat tetapi tidak memahami kehidupan rakyat
- Menerima kehormatan, fasilitas, dan penghasilan dari rakyat — tetapi lupa mendengar suara rakyat
- Bicara tinggi-tinggi di ruang ber-AC, tetapi tidak tahu bagaimana mencari nafkah di luar sana
DAN "SOMBONGNYA BUKAN MAIN"?
- Merasa lebih tinggi, lebih benar, lebih penting daripada mereka yang memilihnya
- Mendengar pujian saja, menutup telinga pada kritik
- Menganggap jabatan itu hak milik pribadi, bukan titipan amanah
- Menjadikan kursi sebagai kekuasaan untuk dipertahankan, bukan tanggung jawab untuk dijalankan
Sombongnya pejabat = miskinnya pelayanan. Semakin tinggi ia memandang dirinya, semakin rendah ia melayani rakyatnya.
INI BUKAN MASA LALU — INI MASIH MENJADI PERTANYAAN KITA
- Mengapa teguran Gus Dur puluhan tahun lalu masih terasa benar hingga hari ini?
- Apakah wajah lembaga perwakilan rakyat sudah berubah menjadi lebih rendah hati, lebih dekat, lebih jujur?
- Siapa yang sesungguhnya diwakili di sana — kepentingan rakyat luas, atau kepentingan segelintir yang duduk di kursi empuk?
- Jika Gus Dur masih hidup hari ini, apakah ia akan berkata hal yang sama? Atau justru semakin berat kata-katanya?
PESAN YANG TIDAK BOLEH LUPA
- Jabatan bukan hadiah, bukan warisan, bukan kemenangan pribadi
- Itu amanah — dititipkan oleh rakyat, untuk rakyat
- Siapa pun yang duduk di sana, seharusnya tidak pernah merasa lebih tinggi dari orang yang menempatkannya
- Rakyat tidak membutuhkan pemimpin yang sombong — rakyat membutuhkan pelayan yang rendah hati
KESIMPULAN
Gus Dur tidak membenarkan semua, ia menegur karena ia peduli.
Teguran ini adalah cermin: lihatlah siapa yang duduk mewakili kita. Lihatlah bagaimana mereka berbicara, bagaimana mereka hidup, dan untuk siapa mereka bekerja.
Jika yang duduk di atas lupa melihat ke bawah, maka rakyat wajib mengingatkan kembali. 🇮🇩

Komentar