TROTOAR BUKAN JALAN RAYA — RUANG RAKYAT HARUS KEMBALI PADA RAKYAT -->

Pasang Iklan Disini

Pasang Iklan Anda Disini !!!.....,

red2

TROTOAR BUKAN JALAN RAYA — RUANG RAKYAT HARUS KEMBALI PADA RAKYAT

Rabu, 09 September 2026

📌 Fakta Peristiwa.          Gambar ini ilustrasi 

 

Viral di media sosial: Seorang pejalan kaki menegur pengendara motor yang melintas di trotoar kawasan Jalan RS Fatmawati, Jakarta Selatan. Bukannya menyadari kesalahan, pejalan kaki justru mengalami perlakuan tidak menyenangkan dari pengendara tersebut.

 

🔍 PERTANYAAN KERITIS

 

1. Siapa yang berhak atas trotoar?

Trotoar dibangun bukan untuk dilalui kendaraan, melainkan untuk melindungi keselamatan pejalan kaki — warga yang paling rentan, tanpa pelindung bodi besi, tanpa kecepatan, hanya mengandalkan kewaspadaan sendiri. Mengapa mereka justru yang harus minggir, merasa takut, dan disalahkan di tanahnya sendiri?

 

2. Mengapa pelanggaran dianggap wajar?

Pengendara motor masuk trotoar bukan hal baru. Yang mengherankan: mengapa mereka tidak merasa bersalah? Mengapa ketika ditegur, justru yang menegur yang mendapat perlakuan buruk? Saat aturan dilanggar berulang kali tanpa sanksi, pelanggaran itu akhirnya dianggap sebagai hak.

 

3. Di mana penegakan hukumnya?

Aturan sudah ada. Yang lemah adalah pelaksanaannya. Pejalan kaki harus membela haknya sendiri karena tidak ada pihak yang melindungi. Apakah keadilan harus selalu diperjuangkan dengan risiko keselamatan pribadi?

 

💡 PELAJARAN UNTUK KITA

 

- ✅ Tegur dengan santun, pertahankan dengan tegas — Menegur pelanggaran adalah benar, tetapi lakukan dengan tenang agar tidak menimbulkan konflik yang membahayakan.

- ✅ Dokumentasikan, laporkan, jangan balas kekerasan — Rekam peristiwa, sampaikan ke pihak berwenang. Keadilan ditegakkan melalui jalur yang benar, bukan dengan amarah.

- ✅ Jangan biarkan ruang umum dikuasai kelompok — Jika hari ini kita diam melihat trotoar dirampas, besok jalanan makin sempit, dan akhirnya hak rakyat kecil perlahan hilang satu per satu.

- ✅ Kesadaran lahir dari keteladanan — Ubah kebiasaan diri sendiri dulu: jangan naik trotoar, jangan parkir di jalur pejalan kaki, jangan menganggap hak orang lain bisa diambil sembarangan.

 

🇮🇩 KESIMPULAN

 

Kemajuan sebuah kota tidak diukur dari lebarnya jalan raya atau banyaknya kendaraan, melainkan dari aman-nyanya pejalan kaki. Jika warga takut berjalan di tempat yang disediakan untuk mereka, maka belum ada peradaban yang sesungguhnya.

 

Trotoar adalah hak setiap orang. Melindunginya adalah menjaga martabat seluruh warga. Jangan biarkan pelanggaran menjadi kebiasaan, dan jangan biarkan yang berani membela kebenaran merasa sendirian.