![]() |
"Kebodohan manusia meluruskan jalannya, lalu hatinya bersungut-sungut terhadap TUHAN."
— Amsal 19:3
I. KECENDERUNGAN YANG SERING TERJADI
Saat hidup tak berjalan sesuai rencana — saat ada kegagalan, kerugian, atau penderitaan — hati manusia paling mudah menunjuk ke langit:
"Tuhan, mengapa Engkau izinkan ini terjadi?"
Kita lupa menengok ke dalam diri sendiri. Lupa bahwa banyak hal terjadi bukan karena Tuhan menahan berkat, melainkan karena keputusan yang kita ambil sendiri, langkah yang keliru, atau jalan yang kita pilih sendiri. Menyalahkan Tuhan adalah cara termudah untuk lari dari tanggung jawab.
II. TUHAN MEMBERI KEMERDEKAAN MEMILIH
Tuhan tidak memaksa langkah kita. Ia memberi kita kehendak bebas, akal budi, dan kemampuan memilih. Setiap pilihan membawa konsekuensinya sendiri — baik maupun buruk.
- Tuhan tidak melarang, tapi memperingatkan
- Tuhan tidak memaksa, tapi menuntun
- Tuhan tidak mencelakai, tetapi membiarkan kita memetik apa yang kita tabur
Menyalahkan Tuhan atas akibat keputusan sendiri = menjadikan-Nya kambing hitam atas kebodohan kita.
III. BERTOBATLAH, BUKAN MENYALAHKAN
Alih-alih menengadah sambil menyalahkan, berlututlah sambil mengakui:
"Tuhan, bukan Engkau yang salah. Akulah yang keliru. Ampuni aku, tuntunlah aku kembali."
Itulah awal pemulihan. Mengaku = membuka pintu agar Tuhan dapat masuk dan memperbaiki. Menyalahkan = menutup pintu dan membiarkan diri tetap terjebak.
IV. HIDUP DALAM KETAATAN DAN HIKMAT
Jalan keluar yang sejati:
✅ Belajarlah dari kesalahan — bukan mengulanginya
✅ Berjalan sesuai firman-Nya — bukan keinginan sendiri
✅ Percaya pada tuntunan-Nya — bukan menuntut agar sesuai kehendak kita
✅ Tetap setia — bahkan saat keadaan belum berubah
Tuhan yang setia akan menuntunmu melintasi badai hari ini, dan masa-masa yang akan datang.
V. KESIMPULAN
Tuhan tidak menjadi penyebab kegagalanmu. Ia menunggu di sana untuk mengangkatmu kembali, asal engkau berbalan dan percaya.
"Jangan cari siapa yang disalahkan. Cari Tuhan yang akan menuntunmu bangkit."

Komentar