![]() |
MAJALENGKA — Pada pelepasan pendistribusian genteng untuk gelombang kedua, Gubernur Jawa Barat menegaskan komitmen Pemerintah Provinsi Jawa Barat dalam mendukung program Gentengisasi yang digagas Presiden Prabowo Subianto. Jika gelombang pertama telah berjalan, kali ini genteng langsung disalurkan ke masyarakat. Di momen yang sama, Gubernur juga menyampaikan dua kebijakan besar: perlindungan jaminan sosial bagi pekerja dan penguatan ekonomi lokal lewat penggunaan bahan bangunan buatan rakyat sendiri.
MELINDUNGI PARA PEKERJA GENTENG
Gubernur menyampaikan fakta yang menyentuh hati:
"Hampir rata-rata pegawai pabrik genteng belum dilindungi asuransi kesehatan dan ketenagakerjaan. Jika terjadi kecelakaan kerja, mereka sering kebingungan — tidak ada yang merawat, tidak ada yang membiayai."
Pemilik usaha kecil pun sering kali belum mampu mengasuransikan pekerjanya. Karena itu, Pemerintah Provinsi Jawa Barat mengambil langkah besar:
📋 Program Asuransi Ketenagakerjaan Jawa Barat 2027
🔹 Jumlah sasaran: 5,4 Juta warga Jawa Barat
🔹 Jika terjadi kecelakaan kerja: Mendapat santunan Rp72 Juta
🔹 Manfaat tambahan: Anak korban dapat kuliah gratis hingga lulus perguruan tinggi
🔹 Cakupan: Biaya kesehatan dan perlindungan kecelakaan kerja
💡 Inti Kebijakan: Rakyat yang bekerja membangun negeri, tidak boleh hidup dalam ketakutan. Jika mereka berjuang untuk kita, negara harus berjuang untuk mereka.
✦ BAGIAN 2 — MENGGERAKKAN EKONOMI LOKAL: BATA MERAH, GENTENG, DAN BAMBU
Gubernur menegaskan bahwa pembangunan tidak boleh mematikan industri rakyat. Justru sebaliknya — pembangunan harus menghidupkan ekonomi di sekitarnya.
🧱 Semua Bangunan Pemerintah Menggunakan Bata Merah Lokal
"Genteng temannya adalah bata. Pengrajin bata mulai terbatas karena kita terlalu banyak membeli bahan dari luar. Maka sekarang seluruh bangunan sekolah, kantor, pagar, ornamen jalan — semuanya kembali menggunakan bata merah buatan lokal."
🔹 Gerbang Pemprov Jabar, jembatan, dan fasilitas umum kini dipasangi bata merah
🔹 Ada yang dibiarkan alami berwarna merah, ada yang dicat putih — tetap terlihat indah dan berkarakter
🔹 Dampaknya: Uang pembangunan tidak keluar daerah, tapi langsung masuk ke saku pengrajin lokal
BAMBU DAN INJUK — KEARIFAN LOKAL KEMBALI DIPAKAI
"Daerah utara punya tradisi genteng dan bata — warisan Kerajaan Mataram. Daerah selatan punya tradisi bambu bilik dan injuk."
Kebijakan baru Pemerintah Provinsi Jawa Barat:
🔹 Daerah pegunungan & berhawa sejuk: Rumah dibangun menggunakan bambu dan injuk
🔹 Daerah dataran rendah & panas: Menggunakan genteng
🔹 Seluruh pembangunan yang didanai APBD Provinsi wajib menggunakan bahan lokal sesuai karakter daerah
Dampak Ekonomi: APBN dan APBD tidak habis di kota besar atau di luar daerah. Uang pembangunan jatuh langsung ke tangan rakyat kecil — pengrajin genteng, pembuat bata, penanam bambu, penganyam injuk. Mereka mendapat pekerjaan, mereka mendapat penghasilan, dan mereka terlindungi oleh asuransi.
Filosofi Sederhana: "Imah napage, baju na wete, beteng na sememah" — Rumah yang layak, pakaian yang pantas, dan makanan yang cukup. Itulah kemerdekaan yang sesungguhnya. Jika pembangunan kita tidak sampai ke pengrajin kecil, maka pembangunan itu belum selesai.
Genteng bukan sekadar menutup atap. Bata bukan sekadar menegakkan dinding. Bambu bukan sekadar penopang. Semua itu adalah pintu rezeki bagi jutaan rakyat kecil yang selama ini tersisih. Ketika negara membeli dari mereka, negara bukan sekadar membeli barang — negara sedang membeli masa depan keluarga mereka.
Semoga kebijakan ini terus berjalan, dari Jawa Barat ke seluruh Indonesia — bahwa kemajuan sejati adalah ketika yang kecil juga tumbuh, dan yang bekerja juga terlindungi.

Komentar