![]() |
MERDEKAANEWS.COM JAKARTA 29 APRIL 2026 – Di tengah gempuran desain minimalis dan produk pabrikan, seni ukir Jepara melakukan perlawanan kreatif. Sebuah kolaborasi lintas disiplin antara Asosiasi Industri Permeubelan dan Kerajinan Indonesia (HIMKI), akademisi ISI Yogyakarta, UGM, serta budayawan Rumah Kartini, meluncurkan pameran bertajuk "Suluk Sungging" sebagai upaya mendobrak stagnasi desain ukir di tanah air.
Pameran ini bukan sekadar etalase produk, melainkan sebuah pernyataan sikap untuk menghidupkan kembali ruh ornamen Masjid Mantingan—sebuah mahakarya arsitektur abad ke-16 yang selama ini hanya dianggap sebagai artefak sejarah, bukan inspirasi produksi.
Mendobrak Kebosanan Pasar.
Veronika Rompis, perwakilan HIMKI, mengungkapkan bahwa industri ukir Jepara sedang berada di persimpangan jalan. Keterjebakan pada pola-pola lama (monoton) membuat daya saing ukir Jepara kian terhimpit.
"Kita sering terjebak pada pola yang itu-itu saja. Jika kita tidak berani melakukan renovasi desain dan berekspresi dengan ornamen baru, konsumen akan jenuh," tegas Veronika Rompis dalam sesi wawancara di Jepara. "Pameran ini adalah pembuktian bahwa ketika kita berani keluar dari pakem yang kaku dan melakukan inovasi, hasilnya adalah karya yang dikagumi dunia."
Riset Satu Tahun: Menyatukan Industri dan Idealisme
Menyatukan tiga entitas berbeda—industri yang mengejar profit, akademisi yang berpijak pada riset, dan seniman yang memegang idealisme—bukanlah perkara mudah. Dibutuhkan waktu satu tahun riset mendalam untuk mentransformasikan estetika klasik Masjid Mantingan ke dalam bentuk-bentuk modern yang relevan dengan selera pasar global saat ini.
"Ini adalah kolaborasi yang luar biasa. Awalnya sulit menyatukan pola pikir antara pelaku industri, seniman, dan sejarawan. Namun, kami disatukan oleh satu visi: menyelamatkan masa depan ukir Jepara," tambah Veronika.
Pesan untuk Nusantara
Proyek "Suluk Sungging" menjadi pengingat bagi publik nasional bahwa kekayaan intelektual nusantara, seperti ornamen Mantingan, memiliki potensi ekonomi kreatif yang luar biasa jika dikelola dengan sentuhan inovasi. Jepara tidak lagi hanya menjual kayu, melainkan menjual narasi sejarah dan nilai seni yang telah diperbarui (renovasi desain).
Melalui pameran ini, Jepara mengirimkan pesan kuat ke seluruh penjuru negeri: bahwa warisan leluhur tidak boleh hanya berhenti di museum, ia harus terus bergerak, beradaptasi, dan hidup di tengah masyarakat modern.

Komentar