![]() |
Sudah delapan puluh satu tahun kemerdekaan bangsa ini diproklamasikan. Bendera berkibar di setiap tiang, lomba digelar di setiap jalan, dan pidato kemajuan terdengar di setiap gedung pemerintahan. Namun bila kita melangkah sejauh seratus langkah ke pinggiran kota — ke tempat yang tidak terlihat dari jendela kantor pemimpin — di sana kenyataan berbicara bahasa yang berbeda.
Di sana kemiskinan berdiri tegak. Sementara di pusat kota gedung baru terus bertambah tinggi, di pinggiran rumah masih berdesakan, jalan belum padat, dan akses air bersih serta kesehatan masih menjadi impian yang mahal. Kontrasnya sangat tajam — dalam satu pandang mata terlihat kemewahan di satu sisi dan kekurangan di sisi lain. Bukan karena rakyat malas, bukan karena alam tidak memberi — tetapi karena pembangunan belum sampai secara merata ke setiap sudut negeri.
Data mencatat masih ada lebih dari 23 juta rakyat yang hidup dalam kemiskinan. Di kota-kota besar pun orang miskin tidak hilang — mereka hanya tersembunyi di celah-celah pembangunan, di pinggir sungai, di tanah yang tidak layak dibangun, dan di jalan-jalan yang tidak masuk peta perencanaan. Pertumbuhan ekonomi terlihat naik di atas kertas, tetapi kesejahteraan itu belum turun merata sampai ke yang paling bawah.
Lalu bagaimana seharusnya dibangun?
Pertama, jangan hanya membangun pusat dulu lalu berharap kelebihannya jatuh ke bawah — itu tidak akan terjadi. Bangunlah dari pinggiran sekaligus: jalan, sekolah, air bersih, dan klinik kesehatan harus sampai ke pemukiman yang terlupakan, bukan hanya di tempat yang mudah dilihat orang luar .
Kedua, sejahterakan pendidik di daerah-daerah itu. Anak-anak di pinggiran kota tidak kalah cerdas — mereka hanya belum diberi guru yang hidup layak dan tenang. Jika gaji guru terjamin, sekolah lengkap, dan anak-anak mendapat makanan bergizi — dari sanalah keluar jalan keluar dari kemiskinan yang sejati .
Ketiga, berikan rakyat di pinggir sarana berdiri sendiri — permodalan kecil untuk usaha, pelatihan keterampilan, dan pasar yang adil. Jangan hanya memberi bantuan sesaat lalu ditinggal. Bantuan harus diikuti jalan agar mereka bisa berjalan sendiri, tidak terus-menerus menadah .
Keempat, pastikan setiap kebijakan pembangunan wajib menyentuh daerah yang paling tertinggal. Jangan biarkan rencana besar hanya berputar di pusat kekuasaan. Keadilan pembangunan berarti: jika ada satu orang rakyat di pinggiran yang belum sejahtera, maka kemerdekaan belum selesai sepenuhnya.
Delapan puluh satu tahun bukan waktu yang pendek. Cukup lama untuk membangun merata. Maka janganlah di usia kemerdekaan yang ke-81 ini kita hanya merayakan kemajuan yang terlihat, sambil menutup mata terhadap yang tersembunyi di pinggiran. Bangunlah dari yang paling sulit, dari yang paling terlupakan — karena itulah ukuran kemerdekaan yang sesungguhnya.
Bekasi, 17 Agustus 2026

Komentar