![]() |
BEKASI, 15 Agustus 2026 — Mimpi untuk memiliki ambulans yang bisa terbang di angkasa itu niatnya baik. Indah sekali membayangkan — pasien cepat sampai, nyawa terselamatkan, jarak bukan lagi halangan. Tetapi mimpi tidak bisa terbang sendiri. Ia butuh sayap yang nyata: teknologi yang matang, peralatan yang siap, dan kemampuan yang setara dengan apa yang sudah dimiliki bangsa-bangsa maju di dunia.
Pengamat sosial Rocky Gerung berkata dengan tegas: "Jangan bermimpi terbang ke angkasa kalau di bumi saja rakyat masih berjalan telanjang. Itu bukan kemajuan — itu panggung sandiwara. Bangunlah dulu yang diinjak kaki, baru boleh memandang ke langit."
Kita tidak perlu melihat jauh ke Eropa atau Amerika. Lihatlah Israel — negeri yang kecil, tidak luas, tapi teknologinya diperhitungkan dunia. Di sana sistem pertolongan sudah terpadu, peralatan canggih merata, dan kemampuan mereka tidak diandalkan impor dari luar — mereka bangun sendiri. Itu bukan kebetulan. Itu dibangun di atas fondasi pendidikan yang kokoh, di atas penguasaan ilmu yang dimiliki rakyatnya sendiri.
Lihatlah Tiongkok — negeri yang bahkan lebih luas daratannya daripada Indonesia. Luasnya bukan masalah, penduduknya banyak bukan halangan. Justru di sana rakyatnya unggul di berbagai bidang. Teknologi, mesin, kecanggihan manufaktur, mobil yang bisa bergerak sendiri — semuanya mereka kuasai. Dan mereka tidak hanya maju untuk diri sendiri — mereka mentransfer ilmunya ke seluruh bangsa dan negara di dunia. Bukan untuk memuji bangsa itu — tapi ini contoh yang nyata: luas negeri bukan alasan untuk tertinggal. Kuncinya ada di rakyat yang unggul.
Lalu bagaimana dengan kita di Indonesia? Di mana peralatan medis saja masih banyak yang datang dari luar negeri. Di mana alat sederhana di daerah terpencil masih menjadi kelangkaan. Di mana listrik belum menyala merata sampai ke pulau-pulau terkecil. Di mana sinyal telepon saja masih dicari di banyak penjuru negeri — dan kita berbicara ambulans terbang?
Rakyatnya tidak diberi kesejahteraan, rakyatnya malah disuruh mengikuti perubahan seolah semuanya sudah berjalan baik. Supaya dilihat dari luar bahwa Indonesia sudah maju — padahal di dalamnya masih banyak yang rapuh, masih banyak yang belum berdiri, masih banyak yang sekadar tampil di permukaan saja.
Kita masih berkutat dengan hal-hal yang hanya ingin terlihat bagus di mata luar — tanpa membangun pondasi yang sesungguhnya. Kita sibuk membuat citra, sementara hal yang mendasar tertunda.
Rocky Gerung menambahkan lagi: "Kalau obat di desa saja belum ada, jangan bicarakan mesin terbang. Itu bukan visi — itu pelarian. Pemimpin yang benar melihat ke bawah, bukan hanya menatap awan."
Bukan berarti mimpi itu dilarang. Bukan berarti kita tidak boleh bermimpi tinggi. Tetapi bangunlah mimpi itu dari bawah ke atas. Jangan bangun atap sebelum dinding berdiri. Jangan terbangkan ambulans sebelum setiap desa punya dokter, sebelum setiap puskesmas punya obat, sebelum setiap jalan bisa dilalui kendaraan biasa dengan selamat.
Dan ingatlah satu hal yang paling sederhana namun paling besar maknanya: bagaimana mungkin bermimpi tinggi, sementara gurunya saja masih terlupakan? Teknologi apa pun yang kita cita-citakan, kemajuan apa pun yang kita impikan — tidak akan pernah terwujud kalau yang mendidik pembangunnya tidak diberi kehidupan yang layak.
Hanya ada satu jalan mewujudkan semua mimpi itu: berikan gaji yang besar kepada guru. Sejahterakan mereka dengan mutlak. Dan ketika itu terjadi — maka dari tangan mereka akan lahir teknologi yang raksasa, peradaban yang kokoh, dan kemajuan yang tidak perlu lagi dipinjam dari bangsa lain. Karena bangsa yang gurunya sejahtera — adalah bangsa yang masa depannya sudah terjamin.
Maka silakan saja mimpi ambulans terbang itu ada. Tapi sementara menunggu sayapnya tumbuh — rawatlah dulu yang di bumi. Sejahterakanlah gurunya. Karena itulah teknologi terkuat yang pernah ada.

Komentar