Bercermin: Mengapa Kita Belum Maju Setelah Tiga Setengah Abad? -->

Pasang Iklan Disini

Pasang Iklan Anda Disini !!!.....,

red2

Bercermin: Mengapa Kita Belum Maju Setelah Tiga Setengah Abad?

Rabu, 19 Agustus 2026


Tiga setengah abad dijajah Belanda — dan hingga hari ini, kita masih berkutat dengan masalah yang sama: peradaban bangsa belum tumbuh, kesejahteraan rakyat belum merata, dan kemajuan terasa berjalan di tempat. Padahal kekayaan alam kita melimpah dari Sabang sampai Merauke, dari pulau terbesar hingga pulau terkecil di perbatasan. Lalu mengapa belum maju? Mengapa belum makmur?

 

Bukan karena rakyatnya tidak cerdas. Bukan karena tanahnya miskin. Bukan karena letaknya tidak strategis. Kita belum maju karena kerusakan bangsa ini datangnya dari dalam — dari mereka yang memegang kekuasaan.

 

Eksekutif, legislatif, maupun yudikatif — terlalu banyak yang duduk di kursi kekuasaan tanpa patriotisme yang sejati. Mereka tidak membangun peradaban dari akarnya, tidak mensejahterakan rakyat dari ujung negeri hingga pulau-pulau terluar. Sebaliknya — kekayaan alam yang seharusnya milik seluruh bangsa, hanya diambil untuk kepentingan segelintir elit, untuk kelompok penguasa, untuk mereka yang duduk di dewan dan di istana. Seolah negara ini hanyalah papan catur — dimainkan, diatur, dan dimenangkan oleh mereka yang berkuasa, sementara rakyat hanya menjadi penonton yang menunggu sisa.

 

Lihatlah bangsa tetangga kita — Singapura, Malaysia, Vietnam. Mereka tidak lebih kaya alam dari kita. Singapura bahkan hampir tidak punya sumber daya alam. Tetapi mereka maju — karena pemimpinnya bekerja untuk rakyat, bukan untuk dirinya sendiri. Mereka membangun pendidikan, membangun kesejahteraan, membangun peradaban — bukan menguras kekayaan negeri untuk kepentingan kelompok.

 

Apakah kita tidak mampu memimpin? Apakah kita kurang pintar? Tidak. Kita justru bangsa yang cerdas, kaya, dan berbakat. Yang salah bukan rakyatnya — yang salah adalah cara kita memimpin dan cara kita mengelola negeri ini. Kekayaan alam yang besar bukan berkah jika hanya diambil oleh sedikit orang — ia justru menjadi kutukan jika tidak dikembalikan kepada rakyat yang membutuhkannya.

 

Kita tidak bisa terus-menerus menyalahkan penjajah masa lalu. Penjajahan baru lahir dari dalam negeri sendiri — ketika penguasa lupa bahwa kekuasaan itu titipan, dan kekayaan alam itu milik seluruh rakyat dari Sabang sampai Merauke, dari pulau terbesar hingga pulau terkecil yang paling terluar.

 

Bangsa yang maju bukan bangsa yang kaya alam — melainkan bangsa yang pemimpinnya jujur, bekerja untuk rakyat, dan membangun peradaban dari bawah ke atas. Itulah yang belum kita lakukan sepenuhnya. Dan sampai hal itu berubah — kita akan terus berjalan di tempat, menunggu kemajuan yang tak kunjung datang.

 

Mari kita bercermin. Bukan untuk menyalahkan masa lalu — tetapi untuk memperbaiki masa depan. Karena negeri ini bukan milik penguasa semata — ia milik setiap anak bangsa, di setiap pulau, di setiap sudut tanah air. Dan kesejahteraan itu bukan hadiah — itu hak yang harus diperjuangkan dan dibangun bersama.

 

Bekasi, 19 Agustus 2026