![]() |
Kita harus belajar contoh dari Jepang — sebuah negara yang memiliki budaya malu yang kuat. Marilah kita belajar, karena bangsa ini sedang sakit. Bangsa ini butuh belajar untuk menjadi bangsa yang memiliki budaya malu: malu menghina sesama, malu merendahkan orang lain, malu mengeluarkan ucapan yang senonoh, malu korupsi, malu melakukan kejahatan terhadap rakyat.
Lihatlah Jepang. Bila seorang pemimpin tidak mampu memimpin, dia bisa mundur dengan senang hati — karena dia malu gagal memenuhi harapan rakyat. Bukan hanya untuk bertahan di kekuasaan, bukan hanya karena haus akan ambisi yang berlebihan, dan bukan dengan cara apapun untuk melanggengkan kekuasaan. Itulah perbedaan yang mencolok. Di sana, kekuasaan adalah tanggung jawab — bukan hak untuk menyalahgunakan.
Tetapi di sini, kita mengukir cerita yang menghancurkan bangsa di dalam rumah sendiri. Kita ulang-ulang kesalahan yang sama, tanpa pernah belajar. Eksekutif dan legislatif tidak pernah mengambil pelajaran dari masa lalu, tidak pernah mendengar suara rakyat, tidak pernah menghargai apa yang dibangun oleh pendiri bangsa kita — para "godfather" yang menjadi pahlawan kita.
Lihatlah contoh Jepang lainnya: bila seseorang melakukan hal yang jahat, terkadang dia bahkan melakukan hara-kiri — bukan sebagai tindakan yang kita harus tiru, tetapi sebagai bukti seberapa dalam budaya malu mereka. Mereka malu pada diri sendiri, malu pada keluarga, malu pada bangsa. Adakah budaya malu seperti itu di negeri kita, Indonesia? Sepertinya tidak — karena kita tetap melakukan hal yang sama, berulang kali, tanpa rasa bersalah.
Panggilan dari "Godfather" Pahlawan Bangsa — Kata-Kata yang Harus Didengar
Para pendiri bangsa kita, para "godfather" yang merintis kemerdekaan, pernah menyatakan kata-kata yang keras dan penuh makna. Seorang di antaranya berkata:
"Kita merdeka bukan hanya untuk memiliki bendera sendiri, tapi untuk membangun bangsa yang adil, yang menghargai sesamanya, yang tidak ada tempat untuk korupsi dan penghinaan. Jika kita lupa itu, maka kemerdekaan kita hanyalah nama kosong — dan kita akan hancur dari dalam."
Mereka berjuang bukan untuk membuat kita menjadi bangsa yang haus kekuasaan dan penuh kejahatan. Mereka berjuang untuk membuat kita menjadi bangsa yang bangga, yang memiliki martabat, yang malu melakukan hal yang salah. Tetapi apa yang kita lakukan sekarang? Kita melupakan semua itu. Kita korupsi, kita hina, kita merendahkan, kita gagal memimpin — dan kita tidak merasa malu sedikit pun.
Mari Kita Pulihkan Budaya Malu yang Hilang
Indonesia tidak perlu melakukan hara-kiri seperti Jepang. Tapi kita butuh pulihkan budaya malu yang sesungguhnya:
- Malu ketika kita korupsi uang rakyat
- Malu ketika kita hina sesama anak bangsa
- Malu ketika kita gagal memimpin dan tetap bertahan di kursi
- Malu ketika kita melakukan kejahatan terhadap bangsa sendiri
Budaya malu itu bukan tanda kelemahan — itu tanda keberanian dan martabat. Itu yang membuat Jepang menjadi negara yang dihormati di dunia. Dan itu yang seharusnya membuat Indonesia menjadi bangsa yang besar seperti yang diimpikan oleh para "godfather" pahlawan kita.
Jangan biarkan kita terus mengukir cerita kehancuran. Marilah kita belajar dari Jepang, marilah kita dengarkan kata-kata para pahlawan, marilah kita bangkit dengan budaya malu yang akan membangun peradaban — bukan yang akan meruntuhkannya.
Bekasi, 19 Agustus 2026

Komentar