![]() |
BEKASI, 16 Agustus 2026 — Gaji guru masih kecil, kesejahteraan pendidik belum tercapai. Namun gagasan pemimpin bangsa melayang terlalu tinggi — tanpa dasar yang paling mendasar terus dilupakan. Guru dibiarkan berjalan sendiri. Tanpa kesejahteraan yang layak. Tanpa gaji yang besar dan utuh. Seolah mereka bisa mencerdaskan bangsa sambil terus berjuang memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri.
Kalau eksekutif, legislatif, dan seluruh lembaga negara memang mempunyai program yang begitu tinggi dan megah — bangunlah dengan kemampuan sendiri. Jangan bebankan kepada guru. Karena pemimpin yang berbicara banyak itu sendiri belum menunjukkan patriotisme yang tulus — terutama dalam hal yang paling mendasar: menyejahterakan pengajar.
Kita seharusnya malu kepada Malaysia dan Singapura. Kita seharusnya malu kepada Vietnam. Lihatlah pemimpin mereka — eksekutif maupun legislatif — penuh keteguhan hati. Program dijalankan dengan baik, kemajuan tercapai dengan nyata. Mengapa mereka bisa?
Pendiri bangsa Vietnam, Ho Chi Minh, pernah memperingatkan dengan tegas: "Kalian boleh menyusun rencana besar, boleh bermimpi tinggi. Tapi ingat — jika guru masih hidup dalam kesulitan, maka semua rencana itu hanyalah angin lalu. Bangunlah kesejahteraan pendidik dulu, baru bicarakan kemajuan bangsa."
Di Vietnam mereka melakukannya begitu. Guru sudah sejahtera. Gaji pendidik besar dan dihormati. Mereka tahu: tidak ada kemajuan yang bisa berdiri kokoh kalau yang mendidik pembangunnya hidup dalam kekhawatiran. Ho Chi Minh menegaskan lagi: "Tidak ada bangsa yang maju jika orang yang memelihara akar peradabannya dibiarkan miskin."
Maka jangan bermimpi terlalu tinggi sementara fondasinya rapuh. Naikkan gaji guru. Sejahterakan mereka dengan mutlak. Ketika itu terjadi — maka program pemimpin apa pun akan tumbuh sendiri dari kualitas manusia yang lahir dari kelas yang dihormati. Sampai saat itu tiba — semua rencana megah hanyalah rencana di atas kertas.
Bila hal ini tidak segera dilakukan oleh pemimpin bangsa yang berpikir tidak rasional — maka negeri ini hanya akan menjadi catatan sejarah yang tertulis sebagai bangsa yang mundur. Bangsa-bangsa lain akan melihat: Indonesia tampak seolah maju di permukaan, padahal miskin di atas segala sumber daya kehidupan dan miskin di dalam peradabannya sendiri.

Komentar