![]() |
Bekasi, 8 Agustus 2026
Di mana-mana kita melihat satu gejala yang sangat mengkhawatirkan: manusia haus kekuasaan, haus kendali, ingin berkuasa di segala bidang atas sesamanya. Inilah yang tertulis dalam kebenaran Firman Tuhan: "Manusia menguasai manusia untuk celakanya". Dan akibatnya sungguh nyata di hadapan mata kita: terjadilah benturan, pertikaian, perebutan, hingga pertumpahan darah yang tidak henti-henti.
Moralitas manusia di dunia ini semakin hari semakin merosot tajam. Manusia tidak lagi malu, tidak lagi takut. Kekerasan kini dilakukan secara terang-terangan, seolah-olah telah menjadi cara yang wajar untuk menyelesaikan segala sesuatu.
Contoh paling nyata dan mengguncang hati baru saja terjadi di Thailand: seorang pelajar melakukan tindakan pembunuhan kejam terhadap sesama pelajar di sekolahnya sendiri. Sungguh tragis dan mengerikan. Apa yang sudah tertanam di dalam hati dan pikiran seorang anak muda, sehingga ia sanggup berbuat sekejam itu terhadap orang yang seharusnya menjadi temannya?
Peristiwa ini bukan sekadar kejadian di satu tempat. Ini adalah cerminan besar dari apa yang terjadi di atasnya. Anak-anak melihat contoh dari para pemimpin: jika di atas saja kekuasaan dipakai untuk menindas, jika di tingkat tertinggi penyelesaian masalah selalu dengan kekuatan dan ancaman, maka jangan heran jika di bawah, di sekolah, di masyarakat, anak-anak meniru hal yang sama. Mereka belajar bahwa siapa yang berkuasa dan kuat, dialah yang menang—bukan yang benar dan adil.
Sejarah pun telah mencatat hal yang sama berulang kali:
- Kekaisaran Romawi runtuh bukan karena kalah perang dari luar, melainkan karena para pemimpinnya haus kekuasaan, saling membunuh demi takhta, dan moral rakyat serta pemimpinnya hancur berkeping-keping.
- Uni Soviet akhirnya pecah karena pemimpinnya lebih mencintai kendali dan kekuasaan daripada mendengarkan kebutuhan rakyatnya, hingga rakyat tidak lagi mau dipimpin.
- Kerajaan Prancis di bawah Louis XVI runtuh karena pemimpinnya menguasai segalanya namun tidak memberi keadilan, hingga rakyat bangkit dan tidak mau lagi tunduk.
Maka inilah peringatan keras bagi setiap pemimpin di mana pun berada: kekuasaan yang tidak diisi dengan keteladanan, keadilan, dan kasih, pada akhirnya akan melahirkan kekerasan yang kelak kembali menghancurkan siapa yang memegangnya. Jika kita ingin anak-anak tidak tumbuh menjadi orang yang kejam, jika kita ingin peradaban tidak hancur oleh pertikaian, maka perubahannya harus dimulai dari mereka yang memegang tampuk kekuasaan. Mulailah memimpin dengan memberi contoh yang baik, bukan dengan menaklukkan. Mulailah mendengarkan, bukan menutup telinga. Karena bangsa yang pemimpinnya haus kekuasaan dan lupa akan kebenaran, pasti akan runtuh dari dalam.

Komentar