![]() |
Bekasi, 9 Agustus 2026
Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia. Namun di balik peta yang luas dan kaya ini, ada bagian-bagian yang seolah-olah hanya diakui saat merayakan kemerdekaan, tetapi dilupakan saat membagi pembangunan. Wilayah yang disebut daerah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar — atau yang dikenal sebagai daerah 3T — tersebar dari ujung Maluku, Papua, hingga perbatasan Nusa Tenggara Timur . Di sanalah wajah ketimpangan terlihat paling jelas: kekayaan alam diambil, tetapi sumber daya manusianya dibiarkan belum tumbuh.
Anak-anak di pulau-pulau kecil Maluku, di pegunungan terpencil Papua, dan di perbatasan yang jauh dari kota — mereka menghadapi hal yang tidak seharusnya terjadi di negara yang mengaku kaya:
- ❌ Sekolah tanpa jaringan internet — di dunia yang serba digital, mereka seakan hidup di zaman yang berbeda
- ❌ Gedung yang belum layak — bocor, jauh dari pemukiman, harus menyeberangi laut atau berjalan berjam-jam hanya untuk sampai ke kelas
- ❌ Buku dan alat belajar terbatas — sementara sumber daya alam di tanah mereka dikapalkan keluar dalam jumlah besar
- ❌ Kekurangan guru — mereka yang mau mengajar di ujung negeri harus berjuang melawan arus, jarak, dan keterbatasan yang seharusnya sudah ditanggung negara
- ❌ Pelayanan kesehatan yang jauh — sakit ringan bisa berbahaya karena rumah sakit butuh waktu berhari-hari untuk dijangkau
Pemerintah pusat seakan lebih sibuk memikirkan apa yang diambil dari sana, daripada apa yang diberikan kepada mereka. Padahal harusnya begitu: kekayaan yang keluar dari wilayah 3T itu, pertama-tama kembali untuk membangun orang-orang yang tinggal di sana. Bukan hanya untuk memperindah gedung di ibu kota.
Kita melihat contoh nyata: di Kepulauan Aru, Maluku, Indeks Pembangunan Manusia masih berada di tingkat yang perlu dikejar cepat. Di Papua Pegunungan, bahkan masuk kategori sangat tertinggal . Anak-anak di sana berhak mendapat pendidikan yang sama dengan anak-anak di Jakarta atau Surabaya — karena mereka sama-sama warga negara yang dijanjikan mendapat kecerdasan dalam Pembukaan UUD 1945.
Bandingkan dengan Singapura: tidak ada sumber daya alam sama sekali. Yang mereka bangun pertama adalah rakyatnya — pendidikan yang merata, kesehatan yang terjangkau, dan kesempatan yang sama. Hasilnya? Satu generasi saja, mereka sudah berdiri sejajar dengan negara maju.
Bandingkan juga dengan Jepang: wilayahnya juga berupa ribuan pulau. Namun di mana pun anak berada — di pulau kecil atau di kota besar — fasilitas sekolah, kualitas guru, dan akses pengetahuan diusahakan setara. Mereka tahu: tidak ada pulau yang boleh tertinggal, karena setiap pulau adalah bagian dari masa depan bangsa.
Kini pertanyaannya tegas: Sampai kapan negara hanya datang mengambil di wilayah timur, tetapi tidak datang membangun manusianya di sana? Apakah harus setiap pulau merasakan sendiri bahwa mereka lebih berharga karena isinya, daripada karena anak-anaknya?
Inilah teguran dan seruan kepada pemerintah pusat:
✅ Bangun infrastruktur yang menjangkau — bukan jalan untuk mengangkut hasil alam saja, tetapi jalan untuk mengantar anak ke sekolah
✅ Hadirkan internet dan teknologi — agar anak di pulau terkecil pun bisa membuka dunia yang sama dengan anak di kota besar
✅ Sejahterakan guru di daerah 3T — mereka yang berani tinggal di sana layak mendapat penghargaan tertinggi, bukan diabaikan
✅ Bangun fasilitas kesehatan yang dekat — karena anak yang sehat adalah syarat utama anak yang cerdas
✅ Hitung kembali: berapa yang diambil dari daerah itu, dan berapa yang dikembalikan untuk rakyatnya di sana?
Jangan bermimpi tentang Indonesia yang maju dan bersatu, jika di ujung negeri sendiri masih ada anak-anak yang harus menyeberangi ombak hanya untuk mendapat selembar pengetahuan yang seharusnya menjadi haknya. Karena bangsa yang membiarkan sebagian rakyatnya tertinggal, pada akhirnya akan tertinggal bersama mereka.
Kekayaan alam bisa habis diambil. Tetapi sumber daya manusia yang terdidik, sehat, dan diperlakukan sama — itulah yang akan menjaga negeri ini tetap berdiri tegak, dari Sabang sampai Merauke, dari pulau terluar hingga ibu kota.

Komentar