![]() |
Sering terlihat hal yang sangat ironis — ketika seseorang dipercaya menjadi pengawal, pendamping walikota maupun gubernur, tiba-tiba hatinya meninggi. Ia merasa kedudukannya sama dengan pemimpinnya, merasa lebih tinggi dari orang biasa, lalu mulai merendahkan, menghina, dan bersikap sewenang-wenang kepada sesama manusia. Seolah-olah kebesaran yang menempel sementara itu adalah kebesaran dirinya sendiri.
Lupa ia — bahwa tidak ada yang abadi di dunia ini. Jabatan bisa berubah, kepercayaan bisa berakhir, dan kedudukan bisa digantikan dalam sekejap mata. Yang membuat seseorang dihormati bukanlah siapa yang dijaganya — melainkan kerendahan hatinya, adabnya, dan cara ia memperlakukan orang lain.
Pengawal bukanlah siapa-siapa. Ia tidak menjadi lebih tinggi karena berdiri di dekat orang tinggi. Ia hanyalah orang yang dipercaya menjalankan tugas — menjaga, melayani, dan menolong. Bukan untuk menempati kursi pemimpin, bukan untuk memakai wibawa orang lain, dan bukan pula untuk menindas yang datang.
Almarhum Abdurrahman Wahid, Gus Dur, pernah memperingatkan:
"Kekuasaan itu singkat. Yang terlihat besar hari ini bisa jadi tidak ada besok. Maka janganlah merasa lebih tinggi hanya karena berdiri di dekat yang tinggi. Kerendahan hati adalah satu-satunya kemegahan yang tidak akan pernah hilang. Siapa yang merasa besar karena jabatan orang lain, ia sedang membangun puing-puing untuk dirinya sendiri."
Jangan sampai hati tersuntik kesombongan hanya karena kebetulan berdiri di tempat yang terlihat. Kecongkaan itu bukan kemenangan — itu adalah pemberat yang perlahan-lahan akan menjatuhkan pemiliknya. Sejarah mencatat: mereka yang meninggikan diri akan direndahkan. Dan mereka yang merendahkan diri, merekalah yang benar-benar berdiri tegak.
Maka jangan hancurkan dirimu dengan keangkuhan. Tugasmu adalah melayani, bukan digemari. Menjaga, bukan menakuti. Dan menjadi rendah hati — itulah satu-satunya cara agar tetap dihargai, meskipun seragam dan tugas itu sudah tidak ada lagi.
Bekasi, 18 Agustus 2026

Komentar