Bekasi, 11 Agustus 2026 — Sungguh sebuah kesalahan besar dalam berpikir, ketika sebuah bangsa justru mencari kekuatan dan pengawasan bukan di dalam lembaga negaranya sendiri, melainkan mengambilnya dari organisasi-organisasi di luar struktur resmi. Ini bukanlah kemajuan — ini justru tanda bahwa sistem di dalamnya belum tegak, sehingga harus disandarkan kepada hal-hal yang berada di luarnya. Dan ini sangat fatal akibatnya, karena pengawasan yang seharusnya jelas, bertanggung jawab, dan dapat dipertanggungjawabkan, menjadi kabur, tidak jelas, dan mudah sekali diarahkan untuk kepentingan lain.
Di negara-negara yang maju dan tertib, pengawasan berjalan di dalam sistem yang sudah ada. Lembaga-lembaga negara dibentuk untuk saling mengawasi: eksekutif diawasi oleh legislatif, kebijakan diperiksa oleh lembaga pengawasan yang mandiri, dan hukum berdiri tegak tanpa pandang siapa yang berdiri di hadapannya. Tidak ada pemerintah yang mengangkat puluhan organisasi di luar struktur lalu menyuruh mereka "mengawal" program pemerintahannya sendiri — karena di sana sudah dipahami: yang mengawasi harus mandiri, tidak boleh diangkat dan dibina oleh yang diawasinya.
Di Tiongkok, program negara disusun, dijalankan, dan diawasi sepenuhnya oleh lembaga-lembaga resmi negara. Di Amerika Serikat pun, pengawasan terhadap pemerintahan dilakukan oleh badan-badan yang sudah ada sejak lama, yang diatur oleh undang-undang, bukan oleh kelompok-kelompok yang baru dibentuk lalu diberi tugas di luar aturan. Organisasi masyarakat yang ada di sana berdiri sendiri, mandiri, tidak dibiayai pemerintah — sehingga kalau mereka berbicara, suaranya adalah kebebasan, bukan perpanjangan tangan.
Sementara di sini, kita melihat hal yang sangat berbeda. Justru organisasi-organisasi di luar struktur yang diangkat, diberi peran, bahkan dikatakan mengawal jalannya pemerintahan. Anggaran terbagi-bagi, peran tumpang tindih, dan yang paling berbahaya: siapa yang mengawasi mereka? Di mana laporan pertanggungjawabannya? Kalau mereka diangkat dan didukung oleh pemerintah, bagaimana mungkin mereka berani menegur pemerintah dengan jujur?
Inilah yang menjadi tanda nyata: selama bangsa ini lebih mengandalkan kekuatan dari luar struktur daripada memperkuat lembaga di dalamnya, maka tidak akan ada perubahan yang sejati. Lembaga yang lemah akan terus lemah, dan kekuasaan akan berpindah ke tangan-tangan yang tidak dipilih rakyat, tidak bertanggung jawab kepada rakyat, namun memiliki pengaruh yang besar di tengah rakyat.
Sejarah selalu mencatat: bangsa yang tidak mempercayai lembaga negaranya sendiri, melainkan mencari sandaran kepada kekuatan di luarnya — sedang menandatangani awal kemundurannya sendiri. Sebab kekuatan sejati sebuah negara tidak datang dari banyaknya kelompok yang dibentuk di luar sistem. Ia datang dari tegaknya hukum, jelasnya aturan, dan berfungsinya setiap lembaga sesuai tugasnya — tanpa perlu bantuan pihak di luarnya.

Komentar