Ketika Negara Menggigit Rakyatnya Sendiri — Tanah Diraih, Berkat Hilang -->

Pasang Iklan Disini

Pasang Iklan Anda Disini !!!.....,

red2

Ketika Negara Menggigit Rakyatnya Sendiri — Tanah Diraih, Berkat Hilang

Rabu, 19 Agustus 2026


Ketika Negara Menggigit Rakyatnya Sendiri — Tanah Diraih, Berkat Hilang

 


Inilah kenyataan pahit dari negara-negara yang mengambil tanah rakyat dan tanah ulayat adat dengan sewenang-wenang. Karena merasa punya kuasa dan otoritas yang luas, negara lalu menunjukkan giginya — dengan senjata dan kekuatan militerannya — kepada rakyatnya sendiri.

 

Rakyat yang sudah berabad-abad hidup di tanah leluhurnya, tidak memiliki kekuatan untuk melawan. Mereka tidak punya senjata, tidak punya tentara, tidak punya undang-undang yang memihak kepada mereka. Maka mereka hanya bisa meratap, hanya bisa bersuara kepada Sang Pencipta, kepada Tuhan Yang Maha Adil.

 

Dan di sinilah kebenaran abadi berdiri tegak: ketika ratapan dan derita rakyat naik ke langit, berkat pun turun dari bumi. Bangsa yang mengambil tanah rakyatnya sendiri tidak akan pernah menjadi berkat. Sebaliknya — ia perlahan-lahan berjalan menuju kehancuran. Tidak perlu perang besar, tidak perlu musuh dari luar — kemunduran itu datang pelan tapi pasti: ekonomi mandek, perpecahan tumbuh, kepercayaan runtuh, dan kemajuan yang diharapkan justru semakin menjauh.

 

Karena tanah itu bukan sekadar tanah. Ia adalah darah, tulang, dan jiwa bangsa. Jika tanah yang diwariskan turun-temurun dirampas — maka jiwa bangsa itu pun tercabut. Negara mungkin merasa menang hari ini, merasa berkuasa hari ini, merasa tidak ada yang berani menentang — tetapi Tuhan mendengar ratapan yang tak terucap. Dan sejarah tidak pernah salah mencatat:

 

Bangsa yang merampas tanah rakyatnya sendiri — tidak akan pernah maju. Ia hanya akan terus mundur, sampai akhirnya menyadari bahwa kekuasaan yang digunakan untuk menindas, bukan untuk membangun — itu bukan kekuatan. Itu adalah awal dari kejatuhannya sendiri.

 

Semoga ini menjadi peringatan bagi setiap pemimpin: melindungi tanah rakyat — itulah kekuatan sejati. Merampasnya — itulah awal kehancuran. Karena di atas segalanya — keadilan Tuhan itu pasti datang, dan ratapan yang ditahan di hati rakyat, suatu hari akan menjadi kebenaran yang tak bisa dibendung.

 

Bekasi, 19 Agustus 2026