Niat tulus seorang warga Mentawai, Yogi, berjuang menghadirkan internet ke kampung halamannya yang terisolasi — justru berakhir di tahanan dan dihadapkan ke persidangan. Sementara itu, kebakaran hutan dan lahan yang merusak udara, merugikan jutaan rakyat, dan melenyapkan kekayaan alam — masih berulang setiap tahun, pelakunya seringkali tidak tersentuh hukum dengan tegas. Ini bukan sekadar ketidakadilan — ini bukti nyata: hukum tajam ke bawah, tumpul ke atas. Ironis bangsa ini — warga yang membangun ditangkap, mereka yang merusak dibiarkan.
📡 YOGI MENTAWAI — MEMAJUKAN DAERAH, MALAH DIPIDANA
✅ Niat baik menghadirkan koneksi ke daerah terluar — Yogi bukan pengusaha besar, bukan pejabat berkuasa, hanya warga biasa yang ingin kampung halamannya terhubung dengan dunia. Di daerah 3T — Terdepan, Terpencil, Tertinggal — internet bukan kemewahan, itu jembatan pendidikan, kesehatan, dan kesempatan. Ia ingin membuka pintu bagi anak-anak agar bisa belajar, bagi warga agar bisa berdagang, bagi masyarakat agar tidak tertinggal.
✅ Berjuang sendiri, justru ditangkap — Negara belum sampai, infrastruktur belum menjangkau, anggaran belum sampai ke pulau terluar. Ketika rakyat berinisiatif mengisi kekosongan itu sendiri — bukannya didukung, difasilitasi, atau dibimbing — malah ditangkap, ditahan, dan disidangkan. Ini pesan apa yang dikirim ke rakyat? Jangan berusaha memperbaiki apa yang negara belum selesaikan?
✅ Daerah 3T masih gelap — Pulau-pulau terluar, kepulauan kecil, pedalaman — belum tersentuh jaringan yang layak. Infrastruktur internet belum maksimal, belum merata, belum menjangkau mereka yang paling membutuhkannya. Negara belum mampu menjangkau — tapi ketika rakyat mencoba melakukannya sendiri, justru dihukum. Di mana keadilannya?
🔥 MEMBAKAR HUTAN DAN LAHAN — MERUSAK NEGERI, TETAPI DIBIARKAN
✅ Kebakaran berulang setiap tahun, kerugian tak terhitung — Hutan Kalimantan, Sumatera, dan wilayah lain terbakar luas, asap menyeberang ke negara tetangga, jutaan orang menderita gangguan pernapasan, ekosistem hancur, kekayaan alam hilang. Pelakunya sering diketahui, sering dilaporkan — namun penindakan terasa lambat, lemah, dan tidak menyentuh mereka yang sebenarnya diuntungkan.
✅ Yang merusak berjalan bebas, yang membangun dipenjara — Ini ironi paling menyakitkan: orang yang ingin menghubungkan kampung dengan dunia ditahan. Orang yang membakar hutan, merusak masa depan generasi, dan mengambil keuntungan besar — seringkali tidak tersentuh hukum dengan tegas. Mengapa kejahatan yang merugikan jutaan orang ditangani dengan lembut, sementara usaha kecil yang membantu masyarakat ditindak dengan keras?
✅ Hukum tajam ke bawah, tumpul ke atas — Terlalu sering kita melihat pola ini: rakyat kecil yang berbuat salah atau sekadar berinisiatif tanpa dokumen sempurna, langsung ditindak tegas. Sementara pelaku kejahatan besar yang merugikan negara dan rakyat secara masif — berlindung di balik kekuasaan, koneksi, dan kekayaan. Hukum seolah memiliki dua wajab: satu untuk yang lemah, satu lagi untuk yang kuat.
🌏 BELAJAR DARI BANGSA LAIN — MEREKA MENDUKUNG RAKYAT YANG MEMBANGUN, MENINDAS YANG MERUSAK
✅ 🇳🇴 Norwegia — Daerah terpencil, pulau-pulau tersebar, populasi jarang — mereka tidak menunggu penduduk datang ke kota, mereka membawa infrastruktur ke penduduk. Pemerintah membangun jaringan ke daerah terjauh, dan jika warga berinisiatif menambah konektivitas — didukung, difasilitasi, diberi bantuan, bukan ditangkap. Mereka tahu: konektivitas adalah hak rakyat, bukan izin penguasa. 🇳🇴📡
✅ 🇨🇭 Swiss — Di pegunungan terisolasi, warga membangun sendiri menara komunikasi dan jaringan lokal. Pemerintah tidak menindak — mereka mengakui peran komunitas, memberikan kerangka hukum yang memudahkan, dan membantu memperluas jangkauan. Inisiatif rakyat dianggap mitra, bukan pelanggaran. 🇨🇭🤝
✅ 🇨🇳 Tiongkok — Kebakaran hutan dan perusakan lingkungan ditindak tegas tanpa pandang siapa: perusahaan besar, pengusaha kaya, pejabat yang melindungi pelaku — semuanya ditindak bersama. Tidak ada yang dikecualikan karena kekuatan atau kekayaan. Mereka memahami: merusak alam adalah kejahatan terhadap seluruh bangsa, hukuman tidak boleh lemah bagi siapa pun. 🇨🇳🔥⚖️
✅ 🇫🇷 Prancis — Inisiatif warga di daerah terpencil untuk menyediakan layanan publik termasuk internet — didorong dan didukung pemerintah. Mereka menyadari: negara tidak bisa selalu hadir di setiap sudut, maka inisiatif rakyat adalah kekuatan yang harus didukung, bukan dilarang. 🇫🇷📶
🇮🇩 PENUTUP — HUKUM HARUS SAMA, TIDAK BOLEH DUA UKURAN
Menyediakan internet di daerah 3T justru ditahan, sementara membakar hutan dan lahan dibiarkan — ini bukti hukum tajam ke bawah, tumpul ke atas. Yogi Mentawai ingin menghubungkan kampungnya dengan dunia, justru dipidana. Mereka yang membakar hutan merugikan jutaan rakyat — sering berjalan bebas. Negara belum mampu membangun infrastruktur ke daerah terluar, tapi ketika rakyat berusaha mengisi kekosongan itu sendiri — malah dihukum. Belajar dari Norwegia, Swiss, Prancis: inisiatif rakyat didukung, bukan ditindak. Belajar dari Tiongkok: perusakan alam ditindak tegas tanpa pandang siapa. Hukum harus satu ukuran — tajam ke atas maupun ke bawah. Yang membangun harus dilindungi, yang merusak harus ditindak — tidak peduli siapa mereka.

Komentar
