![]() |
Selidikilah: bangsa yang menulis ulang sejarahnya adalah bangsa yang mundur. Itu adalah bangsa yang gagal — gagal membangun peradaban bagi bangsanya, gagal membangun peradaban bagi rakyatnya.
Ketika sejarah diubah, diperindah, atau disembunyikan demi kepentingan sesaat, maka rakyat akan bingung. Mereka tidak tahu mana yang benar, mana yang salah, ke mana harus melangkah, dan teladan mana yang harus diikuti. Jika masa lalu saja terus diubah-ubah, maka masa depan pun menjadi kabur — rakyat kehilangan pijakan, bangsa kehilangan arah.
Maka demikianlah: mari torehkan sejarah dalam kebenaran yang baik. Dalam kebenaran yang terang, yang terarah, dan yang terbuka — tanpa ditutupi, tanpa diubah, tanpa diperindah demi siapa pun.
Kita berpegang pada Pancasila, yang pertama dan utama: Berketuhanan Yang Maha Esa. Artinya di atas segala tulisan, di atas segala kekuasaan, ada Tuhan Yang melihat. Tuhan adalah saksi. Setiap kata yang kita tulis, setiap peristiwa yang kita catat, setiap kebijakan yang kita ambil — Tuhan mengetahuinya. Dan kepada-Nya lah kita kembali untuk mempertanggungjawabkan setiap apa yang kita pimpin di negeri ini.
Bukan untuk kemegahan diri, bukan untuk kepentingan segelintir orang, bukan untuk keuntungan sesaat di tempat tertentu. Semua ini — negeri ini, kekuasaan ini, sejarah ini — dipercayakan untuk rakyat. Untuk rakyat yang lebih baik. Untuk bangsa yang lebih lurus. Untuk peradaban yang tumbuh di atas kebenaran, bukan di atas kebohongan.
Sejarah yang jujur adalah warisan terindah yang bisa kita tinggalkan. Biarkan ditulis apa adanya. Biarkan terang benderang. Biarkan generasi mendatang membaca, memahami, dan melangkah dengan pasti — karena mereka tahu dari mana mereka datang, dan ke mana mereka harus pergi.
Bekasi, 18 Agustus 2026

Komentar