![]() |
Bekasi, 10 Agustus 2026 — Sungguh ironis mendengar jika kecerdasan bangsa ini seakan-akan dipisahkan dari tempat persemaiannya — yaitu sekolah. Seolah-olah sekolah bukanlah tempat yang membentuk orang-orang berkarakter, berilmu, dan membawa bangsa ke depan. Padahal sejatinya, sekolah bukan sekadar bangunan, bukan sekadar ruang kelas — sekolah adalah tempat dibentuknya identitas bangsa. Di sanalah akar peradaban ditanam, di sanalah generasi penerus ditempa untuk memikul beban masa depan negeri ini.
Kecerdasan tidak turun begitu saja dari langit. Ia lahir dari ketekunan belajar, dari kesabaran para pendidik, dari sistem yang menghargai pengetahuan — dan semuanya itu berpusat di sekolah. Ketika kita meremehkan peran sekolah, seakan-akan orang hebat bisa lahir tanpa dididik, tanpa dibimbing, tanpa dibangun pondasinya — maka kita sedang menebas akar dari pohon yang kita harapkan berbuah lebat.
Bangsa yang maju tidak lahir dari kebetulan. Ia lahir dari sekolah yang baik, dari guru yang sejahtera dan dihargai, dari murid yang diajarkan bukan hanya menghafal, tetapi berpikir; bukan hanya patuh, tetapi juga berkarakter. Lihatlah Jepang, Singapura, dan negara-negara maju lainnya — mereka tidak meremehkan sekolah. Mereka justru menyadari: di dalam ruang kelas inilah nasib negara ditentukan. Bukan di gedung parlemen, bukan di markas militer — melainkan di tempat di mana anak-anak belajar mengenal dunia dan mengenal jati dirinya sendiri.
Jika pemimpin saja seakan meragukan peran sekolah, jika seakan-akan kecerdasan itu datang dari mana saja kecuali dari tempat yang memang disiapkan untuk itu — maka di situlah letak kemunduran dimulai. Ketika kita tidak menghargai pembentukan identitas sebagai bangsa di dalam sekolah, maka bangsa ini adalah bangsa yang mundur untuk selamanya.
Sekolah adalah fondasi. Sekolah adalah wajah masa depan bangsa. Dan siapa pun yang meremehkannya, sedang meremehkan jalan satu-satunya menuju kemajuan yang sejati.

Komentar