Bekasi, 13 Agustus 2026
![]() |
Belum lama ini dikabarkan bahwa terdapat warga negara Israel yang berkunjung dan berwisata di Bali. Hal ini kemudian menimbulkan reaksi beragam di kalangan masyarakat. Ada yang merasa keberatan, ada yang menyampaikan ketidaksukaan, dan bahkan muncul ujaran kebencian serta perbedaan yang seakan-akan memisahkan manusia atas nama asal negaranya.
Namun mari kita berpikir dengan jernih dan adil:
Mereka datang sebagai wisatawan. Mereka datang berkunjung, menikmati keindahan negeri ini, menghabiskan waktunya dan hartanya di tanah Bali. Selama mereka tidak melanggar hukum, tidak menimbulkan kerusuhan, dan tidak mengganggu ketertiban umum — maka mereka adalah tamu yang berhak diperlakukan dengan hormat.
Lihatlah kenyataan yang nyata terjadi:
✅ Mereka menyewa penginapan, membeli kerajinan tangan, membelanjakan hartanya di pasar-pasar rakyat
✅ Mereka menggunakan jasa pengemudi, membeli produk-produk usaha mikro rakyat Bali, membawa uang masuk berputar di tengah masyarakat
✅ Setiap dolar yang mereka belanjakan adalah pendapatan bagi keluarga-keluarga di Bali, adalah nafkah bagi para pengrajin, adalah berkah bagi para pelaku usaha kecil
Itu bukan sekadar kunjungan. Itu adalah aliran ekonomi yang berputar, adalah rezeki yang datang melawat, adalah penghidupan yang terus berjalan bagi masyarakat setempat.
Lalu mengapa harus ada kebencian? Mengapa harus ada perbedaan yang dibuat-buat?
Pancasila — dasar negara yang kita junjung tinggi — mengajarkan dengan sangat jelas:
🇮🇩 "Ketuhanan Yang Maha Esa" — dan setelah itu: "Kemanusiaan yang adil dan beradab."
Artinya: SEMUA MANUSIA ADALAH CIPTAAN TUHAN. Tidak ada yang boleh dibeda-bedakan. Tidak ada yang boleh dibenci atas nama asal-usul. Semua manusia sama — diciptakan satu asal, satu asal mula, satu martabat yang sama di hadapan Tuhan.
Sebagaimana pernah diucapkan oleh Almarhum Abdurrahman Wahid — Gus Dur — dengan penuh kebijaksanaan:
🕊️ "Kemanusiaan itu tidak mengenal batas negara, suku, agama, atau ras. Semua manusia adalah sama di hadapan Tuhan. Membeda-bedakan manusia berarti menentang kehendak Tuhan sendiri. Janganlah kebencian membuat kita lupa bahwa semua orang itu sama — mereka juga diciptakan oleh Tuhan, sama seperti kita."
Mengapa kita yang mengaku berpegang pada Pancasila, justru memecah belah manusia? Mengapa kita yang diajarkan menghormati, justru menyebarkan kebencian kepada tamu yang tidak berbuat salah?
Boleh saja kita tidak setuju dengan kebijakan pemerintah suatu negara. Boleh saja kita berbeda pandangan dengan pemimpin mereka. Tetapi JANGAN CAMPURADUKAN kebijakan politik dengan martabat manusia biasa. Turis yang datang berwisata itu bukan pemimpin, bukan tentara, bukan pembuat kebijakan. Mereka hanya manusia biasa yang melawat negeri kita sebagai tamu.
Kalau kita membenci tamu yang tidak berbuat salah — maka kita yang melanggar Pancasila. Kalau kita membeda-bedakan manusia — maka kita yang meninggalkan ajaran kemanusiaan yang kita junjung.
Maka mari kita kembali kepada kesadaran yang sederhana:
- Hormati hukum — siapa pun yang melanggar, biar hukum yang bekerja
- Hormati kemanusiaan — siapa pun yang datang dengan damai, layak diperlakukan dengan hormat
- Hormati Pancasila — jangan kita sendiri yang merobeknya dengan ujaran kebencian yang tidak beralasan
Selama mereka tidak melanggar — mereka adalah tamu. Dan memperlakukan tamu dengan hormat — itulah ajaran luhur bangsa kita, itulah isi Pancasila yang sesungguhnya, dan itulah pesan yang selalu diajarkan oleh Gus Dur kepada kita semua.

Komentar