Ketika orang kaya mengambil keuntungan dari kemiskinan orang lain, kita sering memberinya nama yang terdengar terhormat: bisnis, investasi, efisiensi, bahkan pertumbuhan ekonomi. Tetapi ketika orang miskin berusaha melawan keadaan yang menindasnya, bahasa yang digunakan tiba-tiba berubah. Perlawanan disebut kekerasan, kemarahan disebut ancaman, dan tuntutan atas keadilan dianggap sebagai gangguan. Di sinilah kita melihat bahwa persoalan bukan hanya tentang siapa yang memiliki kekuasaan, tetapi juga siapa yang memiliki kuasa untuk menentukan bahasa dalam menggambarkan kenyataan.
📖 DUA BAHASA, SATU KENYATAAN
Ada sesuatu yang sangat janggal di zaman kita ini. Satu perbuatan bisa terlihat sangat berbeda — tergantung siapa yang melakukannya dan siapa yang menceritakannya. Kita hidup di dunia di mana kata-kata sudah tidak lagi digunakan untuk menggambarkan kebenaran — tetapi digunakan untuk melindungi mereka yang berkuasa.
Ketika yang kuat mengambil, menumpuk, dan memanfaatkan kelemahan orang lain — itu disebut kecerdasan.
Ketika yang lemah menuntut, meminta, dan berusaha keluar dari penindasan — itu disebut gangguan.
Itu bukan perbedaan perbuatan. Itu perbedaan nama yang diberikan kepada perbuatan itu — oleh mereka yang berkuasa menentukan apa yang boleh disebut apa.
⚠️ YANG DISEBUT BISNIS, DAN YANG DISEBUT KEKERASAN
1. Mengambil Keuntungan dari Kemiskinan Disebut Investasi
Ketika harga kebutuhan naik tanpa alasan yang jelas, ketika tanah rakyat diambil untuk kepentingan segelintir orang, ketika upah tidak pernah naik sementara biaya hidup terus melonjak — itu semua disebut pertumbuhan ekonomi. Padahal kenyataannya, itu adalah pengambilan keuntungan dari keadaan yang tidak adil. Orang yang sudah kaya semakin kaya bukan karena bekerja lebih keras — tetapi karena mereka berada di posisi di mana kemiskinan orang lain justru menjadi sumber keuntungan mereka. Dan itu diberi nama yang terhormat — bisnis.
2. Melawan Penindasan Disebut Kekerasan
Tetapi ketika rakyat yang tertekan akhirnya bersuara, ketika mereka berkumpul menuntut keadilan, ketika mereka tidak lagi mau diam melihat ketidakadilan — tiba-tiba bahasa berubah. Perlawanan itu disebut anarki. Kemarahan itu disebut ancaman. Tuntutan itu disebut gangguan ketertiban. Padahal yang mereka lakukan hanyalah berusaha keluar dari keadaan yang sudah lama menindas mereka. Mereka tidak menciptakan masalah — mereka hanya berusaha menyelesaikan masalah yang sudah ada sejak lama.
3. Siapa yang Menentukan Kata-Kata, Dialah yang Menentukan Kenyataan
Inilah inti dari semua ketidakadilan: mereka yang memegang kekuasaan bukan hanya menguasai uang dan tanah — mereka juga menguasai bahasa. Mereka yang menentukan apa yang baik dan apa yang buruk, apa yang boleh dan apa yang tidak boleh. Mereka menyebut penindasan sebagai aturan main. Mereka menyebut keadilan sebagai pelanggaran. Dan karena mereka yang menulis cerita — maka rakyat pun perlahan mulai percaya bahwa ketidakadilan itu memang wajar, dan perlawanan terhadap ketidakadilan itu memang salah.
🧠 KITA HARUS KEMBALI MENGGUNAKAN BAHASA YANG BENAR
Kita tidak boleh lagi membiarkan orang lain menentukan kata-kata untuk kita. Kita harus berani menyebut segala sesuatu dengan nama yang sebenarnya:
- Apa yang mengambil hak orang lain — itu bukan bisnis, itu perampasan
- Apa yang memanfaatkan kelemahan orang lain — itu bukan investasi, itu penindasan
- Apa yang membuat orang semakin miskin sementara segelintir orang semakin kaya — itu bukan efisiensi, itu ketidakadilan
- Dan ketika orang yang tertindas akhirnya berani berbicara — itu bukan kekerasan, itu suara keadilan yang selama ini dibungkam
Bahasa yang benar adalah cermin kebenaran. Jika kata-kata kita sudah terbalik — maka pandangan kita terhadap dunia pun sudah terbalik. Kita tidak bisa melihat kenyataan yang benar jika kita terus memakai kata-kata yang diciptakan untuk menutupi kebenaran itu sendiri.
PENUTUP — JANGAN BIARKAN MEREKA MENENTUKAN APA YANG KITA LIHAT
MAKA INGATLAH: PERSOALAN BUKANLAH SIAPA YANG MEMEGANG KEKUASAAN — TAPI SIAPA YANG MEMEGANG KATA-KATA. JIKA KITA MEMBIARKAN KETIDAKADILAN DISEBUT BISNIS — MAKA KITA TELAH MEMBIARKAN KEBENARAN DISEBUT KEBOHONGAN. JIKA KITA MEMBIARKAN PERLAWANAN TERHADAP PENINDASAN DISEBUT KEKERASAN — MAKA KITA TELAH MEMBIARKAN PENINDASAN ITU SENDIRI DISEBUT KETERTIBAN. KITA HARUS BERANI MENYEBUT SEGALA SESUATU DENGAN NAMA YANG SEBENARNYA. BUKAN KARENA KITA INGIN MEMUSUHI SIAPA PUN — TAPI KARENA TANPA KATA-KATA YANG BENAR, KITA TIDAK AKAN PERNAH BISA MEMBANGUN DUNIA YANG BENAR. KEBENARAN TIDAK BUTUH NAMA YANG INDAH — IA CUMA BUTUH ORANG YANG BERANI MENYEBUTNYA DENGAN JUJUR!!!

Komentar

