PEMEKARAN PROVINSI DI PAPUA: ANTARA HARAPAN DAN KEKHAWATIRAN -->

Pasang Iklan Disini

Pasang Iklan Anda Disini !!!.....,

red2

PEMEKARAN PROVINSI DI PAPUA: ANTARA HARAPAN DAN KEKHAWATIRAN

Rabu, 30 September 2026

 




MERDEKAANEWS COM.Papua, 30 September 2026 — Pemekaran wilayah di Papua terus menjadi perbincangan hangat di kalangan tokoh masyarakat, akademisi, maupun pemerintah. Di tengah harapan pemerataan pembangunan, muncul pandangan kritis yang layak didengar.

 

PANDANGAN KRITIS DARI AKADEMISI

 

Dr. Ir. Agus Sumule, peneliti dan dosen di Universitas Papua (UNIPA), menyampaikan pandangannya secara terbuka:

 

"Pemekaran Provinsi Adalah Jalur Transmigrasi Halus Untuk Musnahkan Orang Papua Diatas Tanah Sendiri."

 

Pernyataan ini bukan sekadar penolakan — melainkan peringatan mendalam tentang kekhawatiran akan hilangnya identitas, kedaulatan, dan peran orang asli Papua di tanah kelahirannya sendiri.

 

MAKNA DI BALIK PANDANGAN TERSEBUT

 

🔹 Apa yang Dikhawatirkan?

 

- Pergeseran Kekuasaan: Semakin banyak wilayah baru, semakin terbuka peluang pendatang dari luar menduduki jabatan strategis, sementara warga asli Papua belum siap bersaing

- Hilangnya Keterwakilan: Pemekaran bisa memecah kesatuan suara masyarakat Papua, sehingga kepentingan bersama menjadi lemah

- Pembagian Sumber Daya: Wilayah yang dulunya dikelola bersama kini terpisah — risiko sumber daya alam diambil tanpa kehadiran warga pemilik tanah

- Bukan Penolakan Pembangunan: Yang ditentang bukan kemajuan, melainkan cara pembangunan yang mengabaikan hak dan kedaulatan warga asli

 

🔹 Sisi yang Diharapkan Pemerintah

 

Di sisi lain, pemerintah menegaskan tujuan pemekaran:

 

- Mempercepat pelayanan publik yang terhambat karena wilayah terlalu luas

- Membawa pembangunan lebih dekat ke daerah-daerah terpencil

- Meningkatkan partisipasi masyarakat dalam pemerintahan setempat

- Menciptakan lapangan kerja dan pemerataan kesejahteraan

 

PERTANYAAN YANG HARUS DIJAWAB BERSAMA

 

Pertanyaan Hal yang Perlu Dipastikan 

Apakah warga asli Papua siap memimpin wilayah barunya? Pendidikan, pelatihan, dan kaderisasi harus sudah berjalan 

Bagaimana perlindungan hak ulayat dan tanah adat? Harus ada aturan tegas yang melindungi milik warga asli 

Apakah pemekaran didasarkan keinginan masyarakat? Suara dari bawah harus didengar, bukan keputusan dari atas saja 

Bagaimana agar pendatang dan warga asli hidup berdampingan secara adil? Tidak boleh ada satu pihak yang dirugikan 

 

PELAJARAN BERSAMA

 

- Pembangunan tidak boleh merampas identitas. Kemajuan sejati adalah ketika penduduk asli ikut memimpin, bukan digantikan.

- Kesatuan bukan berarti seragam. Berbeda-beda tetap satu bangsa, selama tidak ada yang merasa tersisihkan.

- Keputusan besar harus melibatkan semua pihak. Suara yang berbeda bukan musuh — itu bagian dari kebijaksanaan.

 

Pembangunan yang meninggalkan penduduk asli bukan kemajuan — melainkan perpindahan penguasaan.

 

Pemekaran wilayah di Papua adalah urusan besar yang menyangkut masa depan jutaan orang. Pemerintah, tokoh adat, agama, dan seluruh elemen masyarakat perlu duduk bersama. Bukan untuk menang atau kalah — melainkan mencari jalan yang paling adil bagi semua anak bangsa yang lahir, tumbuh, dan mencintai tanah Papua.