Bekasi, 11 Agustus 2026
Sering kali kita mendengar alasan yang sama berulang-ulang: Indonesia luas, beribu pulau, tersebar jauh — tentu sulit membangun secara merata, tentu sulit menjangkau semuanya. Itu alasan yang terdengar masuk akal, tetapi bukan kebenaran yang sesungguhnya.
Luasnya negeri dan banyaknya pulau BUKAN penghalang untuk maju. Yang menjadi penghalang adalah ketidaktegasan, ketidakkonsistenan, dan kebijakan yang berubah-ubah setiap kali pemimpin berganti.
Lihatlah negara-negara yang justru lebih berat tantangannya daripada kita:
🇦🇺 Australia — Hampir sama luasnya dengan Indonesia, penduduknya tersebar di jarak yang sangat jauh, di daerah yang panas dan gersang. Tetapi mereka tetap bisa menjamin pendidikan dan kesejahteraan di seluruh wilayahnya. Bukan karena mudah — tetapi karena mereka punya satu arah yang jelas dan dijalankan secara konsisten.
🇵🇭 Filipina — Lebih dari 7.600 pulau, hampir sama banyak dengan Indonesia. Tetapi mereka tetap menyusun satu sistem pendidikan yang dijunjung di mana-mana, tidak berubah-ubah sesuka hati. Bukan karena kecil — tetapi karena mereka sepakat pada satu tujuan.
🇨🇦 Kanada — Negara terbesar kedua di dunia, membentang dari selatan sampai ke kutub utara. Jaraknya jauh, cuacanya berat. Tetapi mereka tetap membangun sekolah, menjamin akses, dan mensejahterakan pendidikannya sampai ke wilayah paling jauh. Bukan karena sempurna — tetapi karena kebijakannya dijalankan jangka panjang, bukan hanya untuk sesaat.
Seperti yang disampaikan pengamat sosial Rocky Gerung: "Jangan jadikan luasnya wilayah sebagai alasan untuk tidak mampu. Justru karena besar, maka harus ada sistem yang kuat — bukan alasan untuk berbuat lemah."
Kita juga sering mendengar alasan: "Negara lain berbeda dengan kita, jadi tidak bisa dipakai contoh." Itu bukan perbedaan — itu hanya alasan untuk tidak berubah. Kita tidak perlu meniru pakaian, bahasa, atau sistem negara lain. Yang harus kita ambil dan kita pelajari adalah:
✅ Konsistensi — kebijakan tidak diubah hanya karena pemimpinnya sudah berganti
✅ Keseriusan — apa yang sudah diputuskan, dijalankan sampai selesai, tidak ditinggal di tengah jalan
✅ Keadilan — yang di ujung pulau mendapat perhatian yang sama dengan yang di ibu kota
✅ Kesejahteraan nyata — guru tidak diberi gelar manis lalu dilupakan, tetapi diberi kehidupan yang layak
Di sinilah letak masalahnya:
Satu program belum selesai dipahami, sudah dibuat program baru. Satu kurikulum belum dijalankan, sudah diganti kurikulum lain. Satu janji belum sampai ke daerah terpencil, sudah dibuat janji yang lain. Bukan karena jauh — tetapi karena tidak ada yang bertahan sampai tuntas.
Bangsa yang besar membutuhkan pemimpin yang tetap, tidak yang berubah-ubah arah setiap hari. Pemimpin yang menyelesaikan apa yang sudah dimulai, bukan yang selalu merasa harus membuat yang baru hanya agar terlihat sibuk.
Apakah Indonesia bisa membangun pendidikan sampai ke ujung negeri? BISA. Apakah Indonesia bisa mensejahterakan gurunya di mana pun mereka berada? BISA. Bukan karena mudah — tetapi karena kita besar, kita kaya, dan kita mampu.
Yang dibutuhkan bukan alasan lagi. Yang dibutuhkan adalah keputusan yang tegas, kebijakan yang konsisten, dan tindakan yang nyata — bukan hanya kata-kata yang indah lalu hilang begitu saja.
Luasnya negeri ini adalah kekuatan, bukan alasan untuk tertinggal. Banyaknya pulau ini adalah anugerah, bukan penghalang untuk berbuat adil. Yang memisahkan kita bukan jarak — melainkan apakah pemimpin punya ketegasan untuk berlaku sama di mana pun, di pulau pertama sampai ke pulau terakhir.

Komentar