![]() |
Sumber foto dari media sosial
Pernyataan Prof. Dra. Francisia Saveria Sika Ery Seda menyoroti satu penyakit paling berbahaya bagi demokrasi: ketika kekuasaan politik dan kekuatan ekonomi masuk ke dalam lingkaran yang sama.
I. PRINSIP YANG HARUSNYA MENJAGA
Dalam gagasan Trias Politica, kekuasaan negara sengaja dipisahkan menjadi tiga — eksekutif, legislatif, dan yudikatif — agar tidak terpusat pada satu pihak. Tujuannya jelas:
- Agar tidak ada satu kekuatan yang menjadi terlalu kuat
- Agar setiap cabang dapat saling mengawasi (checks and balances)
- Agar hukum tetap berdiri tegak, bukan diatur oleh kepentingan pribadi
Pemisahan ini bukan sekadar teori. Ia adalah benteng agar rakyat tidak diperas oleh penguasa.
II. KETIKA DINDING PENYEKAT RUNTUH
Bahaya muncul ketika dinding pemisah itu mulai tipis:
- Pengambil kebijakan adalah juga pemilik modal
- Aturan dibuat oleh mereka yang diuntungkan oleh aturan itu
- Pengawasan menjadi lemah karena pengawas pun memiliki kepentingan di dalamnya
Ketika politik dan ekonomi berpegangan tangan, yang terjadi bukan lagi pemerintahan untuk rakyat, melainkan pengaturan untuk melindungi kepentingan segelintir orang. Keadilan pun menjadi barang yang semakin sulit dijangkau.
III. SIAPA YANG DIRUGIKAN?
Bukan hanya aturan yang rusak. Rakyatlah yang akhirnya menanggung beban:
- Kebijakan berpihak pada yang kaya, bukan yang membutuhkan
- Persaingan menjadi tidak sehat
- Kepercayaan pada negara perlahan runtuh
IV. KESIMPULAN: KEWAJIBAN MENJAGA DEMOKRASI
Demokrasi tidak bisa bertahan jika kekuasaan dan kekayaan berputar di lingkaran yang sama. Pemisahan kekuasaan dan pengawasan yang ketat bukanlah pilihan, melainkan kebutuhan mendesak. Aturan harus dibuat untuk melindungi semua, bukan untuk menguntungkan beberapa. Itulah inti dari negara yang benar-benar merdeka.

Komentar