![]() |
Itulah kenyataan pahit di negeri kita. Penguasa lebih memilih mencondongkan senjata kepada rakyat yang lemah — rakyat yang tertindas, rakyat yang tidak mempunyai kekuatan, rakyat yang tidak punya senjata untuk melawan. Apakah itulah cara bernegara? Hanya dengan kekerasan, hanya dengan tumpahan darah saudara sendiri?
Rakyat tidak bisa disalahkan atas kesalahan masa lalu. Bangsa ini, negara ini, dicintai oleh rakyatnya — rakyat yang mencintai bangsanya, yang ingin melihatnya maju. Rakyat hanya meminta satu hal: memajukan daerahnya, kemakmuran daerahnya. Tetapi apa yang terjadi? Malah tanah ulayat diambil, ditebang sewenang-wenang, dirampas di depan mata sendiri. Penguasa mencontohkan kekuatan senjata seakan-akan kekuatan militer itulah yang luar biasa — bukan untuk melindungi perbatasan negeri, bukan untuk menjaga kedaulatan dari luar, melainkan untuk menekan rakyat sendiri.
Elit dan sekelompok penguasa tidak sadar bahwa peradaban ini akan tercatat oleh sejarah dan generasi yang akan datang. Jangan salahkan rakyat bila suatu hari nanti mereka memilih untuk berdaulat dan membangun kemajuan daerahnya sendiri — karena ketika negara tidak hadir untuk melindungi, rakyat terpaksa berdiri sendiri.
Sipadan — Permata yang Hilang, Bukti Kedaulatan yang Dikhianati
Ingatkah kita akan Pulau Sipadan? Pulau yang dulu pernah menjadi milik kita, yang menjadi bagian dari perairan utara Kalimantan, tempat nelayan kita mencari nafkah selama berabad-abad. Sipadan adalah satu-satunya pulau vulkanik di perairan itu, permata keindahan bawah laut yang diakui dunia — namun kini bendera Malaysia yang berkibar di sana, bukan bendera Merah Putih.
Bagaimana bisa Sipadan yang dulu milik kita, akhirnya diambil oleh Malaysia? Karena pada tahun-tahun lalu, ketika klaim diajukan, Indonesia tidak cukup memperjuangkannya. Kemudian melalui putusan Mahkamah Internasional pada tahun 2002, Sipadan dan Ligitan diserahkan kepada Malaysia — bukan karena rakyat setuju, bukan karena rakyat menyerah, tetapi karena penguasa tidak cukup memperjuangkan tanah rakyatnya sendiri.
Dua Hal yang Terbalik di Negeri Ini
Lihatlah perbedaannya dengan jujur: di perbatasan luar, tanah kita hilang — dan senjata tetap diam. Tapi di dalam negeri, di tanah sendiri, senjata justru diarahkan kepada rakyat yang meminta tanahnya dihormati.
Tanah ulayat rakyat diambil — negara diam, bahkan ikut mengambilnya. Pulau Sipadan yang milik bangsa — hilang ke tangan negara lain — dan tidak ada yang dimintai pertanggungjawaban. Tapi rakyat yang meminta haknya — justru dihadapi dengan senjata.
Apakah ini berarti kita lemah di luar, tapi kuat di dalam? Apakah ini berarti kekuatan militer hanya hebat ketika diarahkan kepada rakyat sendiri, tapi diam ketika kedaulatan negeri diambil orang lain?
Generasi mendatang akan membaca sejarah ini dan bertanya: "Mengapa tanah yang dihuni nenek moyang kita diambil begitu saja? Mengapa rakyat yang meminta haknya justru ditindas? Mengapa permata Sipadan hilang tanpa perlawanan yang berarti, tapi rakyat yang berdoa untuk tanahnya sendiri dihadapi dengan senjata?"
Jangan biarkan sejarah mencatat bahwa bangsa ini lebih kuat menindas rakyatnya sendiri daripada menjaga kedaulatannya sendiri. Jangan biarkan nama Sipadan menjadi satu-satunya pengingat bahwa ketika negara tidak hadir — tanah hilang, dan rakyat terlupakan.
Belajarlah dari Sipadan. Belajarlah dari tanah ulayat yang dirampas. Kekuatan sejati bukanlah senjata yang diarahkan ke rakyat — melainkan kekuatan untuk menjaga tanah air, menjaga kedaulatan, dan menjaga hak setiap anak bangsa dari Sabang sampai Merauke.
Bekasi, 19 Agustus 2026

Komentar