![]() |
MERDEKAANEWS.COM JAKARTA — Nama yang selama puluhan tahun dikenal sebagai suara paling tajam di pinggiran, kini berdiri di tengah pusat kekuasaan. Pada Jumat, 2 Oktober 2026, Rocky Gerung resmi dilantik oleh Presiden Prabowo Subianto sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres). Pergeseran ini memicu pertanyaan besar di seluruh negeri: apakah ini perubahan arah perjuangan — atau perpisahan dari prinsip?
I. DARI LUAR ISTANA — SUARA YANG TIDAK PERNAH REDA
Selama ini, Rocky Gerung dikenal sebagai pengamat yang tidak kenal kompromi. Dari luar lingkaran kekuasaan, ia menyoroti kelemahan negara, menegur penyimpangan pejabat, dan mengingatkan rakyat agar tidak tertipu janji-janji manis.
- Ia berdiri di barisan yang sama dengan rakyat yang merasa tidak didengar
- Kata-katanya tajam, tidak terikat kepentingan, tidak takut pada siapa pun
- Banyak yang melihatnya sebagai penjaga kebenaran yang tidak bisa dibeli
II. MASUK KE DALAM — PINTU TERBUKA, TAPI JUGA DINDING BARU
Kini ia berada di dalam. Posisi ini membawa dua kemungkinan yang sama kuatnya:
🔹 Pandangan Pertama: Kritik yang Lebih Dekat
- Dari luar, suaranya bisa diabaikan. Dari dalam, ia berada di ruang keputusan — di mana masalah terlihat lebih jelas, lebih lengkap, lebih nyata
- Ia bisa mengingatkan langsung kepada pengambil kebijakan, bukan hanya kepada rakyat
- Bisa jadi tujuannya bukan menikmati kemewahan, melainkan memastikan suara yang selama ini terdengar di jalanan ikut masuk ke ruang rapat
🔹 Pandangan Kedua: Kompromi yang Mulai Terjalin
- Ada pertanyaan yang tak bisa dihindari: apakah kritikus yang selama ini menolak sistem, kini mulai menerima bagian dari sistem itu?
- Posisi, kehormatan, dan keterikatan pada lembaga bisa mengubah cara pandang — bahkan tanpa disadari
- Yang dulu dikritik keras, kini mungkin dilihat lebih lunak. Yang dulu ditolak mentah-mentah, kini mungkin dicari alasan untuk dimaklumi
- Rakyat yang dulu mendukungnya bisa merasa ditinggalkan — bukan karena salah perjuangan, tapi karena perubahan tempat berdiri
III. TANDA YANG HARUS DIPERHATIKAN
Waktu akan menjadi saksi yang paling jujur. Yang akan dinilai bukanlah pidato pelantikannya, melainkan tindakannya ke depan:
- Apakah ia tetap menegur kesalahan meskipun itu dari rekan di ruang yang sama?
- Apakah ia berani tidak sejalan dengan Presiden ketika kebijakan itu tidak adil?
- Apakah suara rakyat yang terpinggirkan tetap terdengar dari mulutnya — atau hanya suara kepentingan yang duduk di meja rapat?
- Apakah ia bisa keluar kapan saja jika prinsipnya dilanggar — atau justru terikat sampai akhir masa jabatan?
IV. PELAJARAN BANGSA
Peristiwa ini mengingatkan kita pada satu hal yang abadi:
Kekuasaan tidak diuji saat seseorang berdiri di luar — ia diuji saat sudah berada di dalam.
Banyak orang bisa mengkritik dari pinggir. Tetap lurus ketika sudah mendapat kedudukan, kehormatan, dan kenyamanan — itulah ujian yang sesungguhnya. Rocky Gerung kini menghadapi ujian itu. Semoga ia lulus.
V. PENUTUP
Bangsa ini tidak membutuhkan orang yang masuk istana untuk diam. Kita membutuhkan orang yang masuk ke sana agar kebenaran tidak ditinggalkan di luar.
Apakah ini kompromi atau kritik dari dalam? Jawabannya tidak ada di hari pelantikan — jawabannya ada di setiap hari ke depan, setiap kali keputusan berat harus diambil, dan setiap kali suara kecil harus dibela meski tidak menguntungkan siapa pun.
Kita tunggu dan kita lihat. Bukan dengan prasangka — tapi dengan pengawasan yang teliti. Karena kekuasaan tidak boleh dipercaya begitu saja, siapa pun yang memegangnya.

Komentar